Jajaran tinggi SMA Safir Biru memutuskan untuk men-skors Brie dan Kei selama seminggu.
Nada mendapat berita dari Sensen melalui chat Yahoo Messenger, hal pertama yang dilakukan ketika tiba di sekolah yakni mencari si ketua kelas.
“Apa yang terjadi?” tanya Nada panik menuntut kejelasan.
“Kemarin sore Brie ngumpulin siswa-siswa dari kelas X sampai XII untuk protes ke kepala sekolah mengenai keputusan mereka untuk mengeluarkan Dwiki, Nad,” Sakti menghela napas. “...dan tentu saja Kei mendampingi Brie di barisan terdepan.”
Nada dapat membayangkan kedua sahabatnya dengan gagah berani memimpin demo di lapangan Safir Biru menuntut keadilan untuk nasib Dwiki dan kawan-kawan. Sayangnya, kemarin Nada absen karena alasan tertentu sehingga tidak dapat menyaksikan salah satu kejadian epik di Safir Biru.
“Jadi Dwiki, Badi sama Patra benar-benar dikeluarkan dari sekolah?”
“Setelah proses negosiasi dan rekonsiliasi selama dua hari, pihak sekolah memutuskan untuk memberhentikan mereka bertiga, Nad—”
“Dwiki sama Badi sama-sama kelas XII, sebentar lagi mereka lulus, gimana nasib mereka?”
“Mereka gak benar-benar dikeluarkan, Nad, cuma diberhentikan sejenak,” Sakti berhenti sejenak sebelum melanjutkan kalimatnya, “..tahun depan mereka diperbolehkan untuk melanjutkan semester yang tertunda, Pak Pras menganggap ini keputusan yang terbaik demi menjaga nama baik sekolah.”
Ah, nama baik sekolah, sungguh Pak Pras sekali. Tentu saja baginya reputasi Safir Biru lebih penting daripada masa depan ketiga murid tersebut. Pak Prasetyo Sumardjoyo, kepala sekolah SMA Safir Biru yang tidak pernah tidak peduli pada citra sekolah dalam situasi apa pun. Sudah menjadi rahasia umum bahwa Pak Pras tidak pernah menyukai keberadaan Rexx dan Joker, baginya, keberadaan geng-geng tersebut hanya memberikan kesan berandal dan tidak bermoral. Konon, dulu waktu Pak Pras masih menjadi siswa di Safir Biru, beliau tidak diterima di geng mana pun sehingga mungkin penolakan itu menumbuhkan rasa tidak suka sampai hari ini.
“Terus gimana nasib Brie dan Kei?”