Ini pertama kali Brie tidak berjumpa dengan Dwiki selama lebih dari seminggu.
Brigitta Lazuardi terbiasa dengan kehidupannya bersama Dwiki Hadyan Atmadja. Bagaimana tidak, mereka tinggal berdekatan, selalu berada satu sekolah sejak SD dan hampir tiap kali sekelas. Brie mengambil beberapa kerikil dan melemparkannya ke arah jendela kamar Dwiki, rutinitas yang selalu dilakukan ketika mengajak teman kecilnya itu bermain basket atau sekedar ke warung untuk jajan.
Terdengar jendela dibuka dan kepala Dwiki muncul, ia menatap Brie tanpa berkata apa-apa karena sudah menangkap sinyal ketika Brie mengangkat plastik berisi makanan. Beberapa menit kemudian Dwiki keluar dari rumah mengenakan t-shirt hitam, celana training panjang dan topi yang menutupi wajahnya.
“Tumben pake topi?” Brie mencoba meraih topi dari kepala Dwiki meskipun tidak semudah saat mereka SMP dulu karena kini tinggi Dwiki jauh menjulang. “Lo habis digebukin siapa?” tanya Brie terkejut mendapati luka sobek di ujung bibir Dwiki yang mulai membiru.
“Biasa, abang gue, siapa lagi,” Dwiki menjawab santai dan mengenakan kembali topinya.
“Bener juga, gak mungkin bokap nyokap lo,” Brie teringat beberapa tahun yang lalu ketika dirinya dan Dwiki masih kelas X, sore itu Brie memaksa Dwiki diantar pulang karena ada drama yang harus segera ditonton. Naas, di perjalanan pulang mereka diserempet oleh pengemudi mobil tak bertanggung jawab hingga motor Dwiki masuk selokan dan mereka berdua ikut terjatuh. Meskipun terluka, Dwiki dengan sigap menggendong Brie di punggungnya ke rumah sakit yang untungnya hanya terletak beberapa meter dari lokasi kejadian. Brie mengalami cedera di bagian pergelangan kaki sehingga harus mengenakan gips selama tiga minggu dan Dwiki mendapat lima jahitan di tangan serta beberapa luka lecet di kaki.
Saat di rumah sakit, keluarga Brie dan Dwiki dengan panik menghampiri mereka termasuk Deril, putra sulung keluarga Atmadja. Tanpa basa-basi, ia langsung menempeleng kepala Dwiki sambil berteriak di depan semua mata, “Lo harus selalu hati-hati dalam bertindak!” Tentunya situasi itu mengejutkan keluarga Lazuardi yang tidak terbiasa melihat sikap agresif Deril.
“Yang penting adik kamu sudah bertanggung jawab dan semuanya baik-baik saja,” Pak Atmadja dengan tenang membelai pundak Dwiki sambil menatap Deril untuk meredakan suasana. Ibu Dwiki pun ikut membelai lembut Dwiki dan kemudian memeluk erat Brie, “Kalian berdua terus saling menjaga ya,” bisiknya lirih di telinga Brie.
Malam itu, mereka berdua memilih duduk di depan warung langganan dan Brie menyodorkan isi plastik yang dibawanya dari tadi, “Seblak basah level 20 extra telur.”