Bu Ros menyusuri lorong sekolah dengan sumringah.
Bagaimana tidak, kabar baik datang beriringan di luar ekspektasi. Dwiki tetap diperbolehkan mengikuti kegiatan pemantapan seusai jam pelajaran, hukuman skors Brie dan Kei dipersingkat menjadi tiga hari berkat beberapa murid yang kabarnya dengan berani menghadap Pak Pras dan bernegosiasi. Alhasil, suasana Safir Biru mereda dan kembali normal sehingga kegiatan mengajar dapat berlangsung dengan tenang sentosa.
Sayangnya, senyuman di wajah Bu Ros tidak bertahan lama ketika memasuki kelas XII IPA 3 dan menyaksikan betapa hampanya ruangan tersebut, kosong tak berpenghuni, hanya tampak tas dan buku berserakan yang seakan sengaja ditinggalkan dengan tergesa-gesa. Pemandangan tidak biasa ini tentu mengkhawatirkan dan menghadirkan kerutan di muka Bu Ros.
“Bu Ros,” Suara Sakti yang menggema di ruang kosong itu membuat Bu Ros segera beralih padanya. “Bisa tolong ikut saya sekarang, Bu?”
“Ada apa ini, Sakti? Kemana teman-temanmu yang lain?” Bu Ros tidak dapat menyamarkan kepanikan dalam setiap diksi yang terlontar.
“Terjadi sesuatu, Bu Ros harus ikut saya sekarang,” Sakti tidak pernah terlihat ekspresif dan ketaknormalan ini sangat menggelisahkan.
“Siapa yang berantem? Ada yang demo lagi? Ada apa, Sakti? Tolong saya jangan dibuat deg-degan,” Bu Ros tanpa sengaja mengomeli Sakti akibat kepanikan tak karuan.