Bu Ros menghembuskan napas terakhirnya di atas sajadah seusai fajar berlabuh.
Kabar itu menghantam keras seluruh murid XII IPA 3. Siapa sangka hangatnya siang kemarin menjadi pertanda bahwa hari-hari berikutnya tidak akan lagi sama. Menanggapi kabar duka tersebut, pihak Safir Biru memperbolehkan siswa-siswi pulang setengah hari bagi yang hendak melayat ke rumah almarhumah. Meskipun hampir seluruh murid IPA 3 hadir, ruang kelas terasa hampa sekali. Tidak ada candaan Raga, suara gitar Gori, omelan Sensen ataupun teriakan Brie. XII IPA 3 sedang berduka.
Sakti sebagai ketua kelas menyarankan untuk menyewa beberapa angkot dari sekolah agar mereka tidak berangkat terpisah-pisah, kecuali yang memang ingin membawa kendaraan sendiri.
Sesampainya di kediaman Bu Ros, mereka semua menyalami keluarga yang ditinggalkan. Pak Sigit, suami Bu Ros, terlihat berdiri tegar menyalami tamu satu per satu dengan senyum letih. Sukma dan Samudera, putra kembar Ros, duduk di samping jenazah yang beberapa jam lagi akan dimakamkan. Mereka berdua berusaha tampak tegar seperti sang Ayah, genangan air mata beberapa kali coba dihapus untuk menyamarkan lara mendalam.
“Saya Sakti, mewakili kelas XII IPA 3, turut berduka cita atas kepergian Ibu Rosiana Wijaya, semoga amal ibadah Almarhumah diterima di sisi-Nya, serta keluarga yang ditinggalkan senantiasa tabah dan sabar,” Sakti mengucapkannya lirih dan sedikit terbata. “Kami—keluarga IPA 3 sangat menyayangi Bu Ros.”
Mata Nada kembali berlinang mendengar kalimat Sakti, ia menggenggam tangan Brie kian erat, menahan pilu yang mengetuk bengis dadanya tak kira-kira.