Teduh sekali bersamanya. Sungguh, seperti ini saja sudah cukup.
“Belum pernah dibonceng ya?” Raga memperhatikan gelagat Nada dari kaca spion Vespa miliknya.
“Sering kok sama Mang ojek,” Nada menjawab sedikit berteriak tidak mau kalah dengan bising jalanan.
“Kok norak gitu, kaya anak kemarin sore, wkwk.” Sejujurnya, ini memang kali pertama Nada dibonceng naik motor, ia tidak pernah pernah mendapat izin dari Pakde Bas menaiki kendaraan umum selain angkot. Terlalu banyak kekhawatiran yang berputar di dalam kepala Pakde, sesering apapun Nada mencoba meyakinkan bahwa semua akan baik-baik saja. Meskipun pada akhirnya, Nada tetap lah si anak penurut yang tidak berani melawan.
“Jalan Cipaganti ini favorit aku, Ren, kesannya selalu sejuk kalau lewat sini,” Raga menjelaskan sambil sesekali menengok ke belakang. Ini pemandangan baru bagi Nada, Raga dengan helm dan Vespa miliknya. Tidak pernah terpikirkan dirinya akan dibonceng oleh seseorang, terlebih orang tersebut adalah Raga. Ya, Satya Bian Nuraga. Sosok yang belakangan ini memenuhi pikirannya, melebihi rumus Fisika dan urutan unsur Tabel Periodik, dan menjadi nama yang disebut dalam doanya. Kini ia berada begitu dekat dengan Raga, Nada tersadar bahwa ini pertama kalinya ia menatap punggung Raga yang terlihat begitu besar. Ia pernah beberapa kali melihat punggung itu, ketika Raga berdiri di depannya saat upacara, atau saat Raga menghapus papan tulis kelas tepat di hadapannya, tapi rasanya tidak senyata hari ini.
“Lihat Ren, daunnya pada gugur!” Raga terdengar bersemangat seperti anak kecil. Nada melirik ke spion dan terpantul senyum Raga yang mengembang menatapi pemandangan daun berjatuhan menghujani jalan. Tiba-tiba Raga mengarahkan salah satu tangannya ke atas mencoba meraih dedaunan yang jatuh dan berhasil ditangkap!
“Keren!” sahut Nada kagum dan bertepuk tangan. Dan sekarang, mereka berdua sama-sama kelihatan seperti dua bocah yang baru menemukan harta karunnya sendiri. Raga melirik bangga dan tersenyum lebar ke arah gadis yang sedang diboncengnya, senyum itu, Nada ingin menyimpannya rapat-rapat dalam laci memori terdalam.
“Kok lewat jalan ini, Ga? Bukannya malah muter lebih jauh ya?” Nada baru sadar kalau mereka sudah mengelilingi sebagian kota Bandung dan menempuh waktu yang lebih lama dibanding seharusnya.
Raga dan Nada berdua tiba di depan rumah sederhana bercorak kayu dengan dominasi warna krem ketika matahari perlahan turun dari langit.
“Ini turunnya ke kanan atau kiri ya?” Nada celingak-celinguk tidak tahu pasti bagaimana cara turun dari motor.
“Sebentar,” Raga turun dari Vespa, memasang standar sambil terus menopang motornya. “Nih, lewat depan aja biar aman.”
“Motornya atau aku?”