Lucu sekali bagaimana sebuah rasa bisa hadir hanya karena satu kata.
“Saya lewat depan Yogya,” Sakti mematikan mesin motornya. “Bisa saja kalau mau bareng.”
Kei tidak memberi tanggapan.
“Atau kalau mau nebeng sampai depan gang juga bisa.”
Kali ini Kei meraih helm yang ditawarkan Sakti dan langsung di duduk di jok belakang.
“Jadi…mau ke Yogya atau ke depan gang?” Sakti mendadak kikuk.
“Niatnya mau nganterin ke mana?”
“Hmm, naik dulu aja pokoknya.”
Perjalanan di atas Vespa Sakti tak berdialog, sepi namun hangat. Mungkin karena sama-sama sedang berduka atau bimbang bagaimana harus memulai.
“Kenapa berhenti di sini?”
“Haus gak? Es kelapa madu di sini enak loh,” Sakti memarkirkan Vespa-nya dan mempersilahkan Kei turun terlebih dulu di depan sebuah gerobak bertuliskan ‘Es Kelapa Madu Yahut’.
“Bilang aja mau ngajak minum bareng,” Kei melepas helm dan rambut hitam panjangnya terurai indah bersamaan dengan paras jernih yang memukau, membuatnya menjadi pusat perhatian belasan mata, termasuk si penjual kelapa madu, para tukang ojek dan beberapa pembeli yang sedang duduk di sekitarnya.
“Es kelapa madunya dua ya, A!” Sakti mempersilahkan Kei duduk di sebuah bangku kayu usang di sampingnya.
“Kurang kenyang kalau cuma minum ini,” Kei meletakkan gelas kosong pertamanya.
“Mau tambah lagi?”
“Mau, tapi pasti laper lagi. Lanjut ke sana aja yuk,” Kei menunjuk sebuah rumah makan Padang berukuran kecil tepat di seberang jalan. “Anggap aja cemilan sore.”
“Makanan Padang—itu cemilan?” Sakti tidak habis pikir.