Setidaknya, ada kenangan tentang kita berdua yang bisa aku banggakan seorang diri.
Ai tersenyum sendiri mendengar beberapa episode terakhir Tera. Tentang Raga yang ikut makan malam bersama Bude Sri dan Renada di rumah. Tentang Sakti yang tanpa persiapan dan aba-aba menerima pernyataan cinta dari Kei di warung makan Padang. Entah sejak kapan Ai mulai menaruh sebagian besar perasaannya pada setiap tokoh yang sebatas ia kenal melalui audio. Beragam ekspektasi pun mulai bermunculan, perihal Nada yang pada akhirnya memiliki rasa yang se-frekuensi dengan Raga, perihal Sakti yang perlahan berhenti memenuhi harapan orang-orang di sekitarnya dan membuka diri pada Kei dengan segala kekakuannya. Perihal Brie dan Dwiki yang sadar bahwa mereka bisa menjadi lebih dari sekedar teman masa kecil. Perihal Raga yang berhasil menjalani kemoterapi dan pulih seutuhnya dari penyakitnya. Andai Ai memiliki kebebasan untuk menulis akhir cerita yang menurut versinya happy ending, pasti lah dirinya sudah tenang menyelesaikan draft satu dan mengirimkannya kepada Mas Sada.
Ai meraih rokok dan menutup Macbooknya, tahu-tahu sosok Mas Sada sudah berada di depannya tanpa suara.
“Astaga!!” Mau tidak mau Ai teriak mendapati sosok ajaib tersebut di depannya. Mas Sada yang sedang tenang membaca Kindle meliriknya perlahan. “Kok bisa ada di sini, Mas?”
“Oh, akhirnya menyadari keberadaan saya,” jawab Mas Sada datar.
“Tahu dari mana saya ada di sini?”
“Radar editor terhadap keberadaan penulisnya kuat,” Mas Sada menunjuk ke arah kepalanya.
“Mas Sada stalking saya ya jangan-jangan?”
“Saya tidak punya waktu untuk hal tidak penting seperti itu.”
Dengan raut masih heran, Ai berniat menyalakan rokoknya dengan pematik.
“Boleh, tapi ketika tidak ada saya,” Mas Sada meraih rokok yang hendak dinyalakan Ai dan meletakkannya kembali di atas meja.
Tunggu, adegan ini mengingatkan Ai pada sesuatu.
“Pasti kamu lagi mikir kenapa kejadian barusan rasanya tidak asing?”
Jleb! Makhluk apa di hadapannya ini? Ai menatap Mas Sada heran tanpa bisa berkata-kata.