Raden Ayu Senita Laksmi Diningrat alias Sensen mempersiapkan baterei cadangan dan memory card untuk handycam-nya guna memastikan acara Unjuk Kreasi nanti malam dapat direkam secara sempurna. Unjuk Kreasi merupakan acara tahunan Safir Biru di mana setiap kelas diharap mempersiapkan pertunjukkan atau pun kreasi terbaiknya untuk ditandingkan dengan kelas-kelas lain. Mengingat kelas XII IPA 3 masih dalam keadaan berduka, sebagian besar kehilangan bersemangat dan memutuskan tidak berpartisipasi pada malam yang seharusnya menjadi ajang terakhir mereka tampil bersama.
Tahun sebelumnya, Bu Ros begitu bersemangat menyiapkan konsep semi drama yang diakhiri oleh penampilan pompom boys dan paduan suara dari seluruh murid IPA 3. Lagu yang dibawakan pun merupakan karya Mino berkolaborasi dengan Raga sehingga terdengar begitu personal. Sejak kepergian Bu Ros, lagu berjudul “Kami satu” itu justru menghidupkan lagi duka yang mendalam bagi IPA 3. Pada akhirnya, Sakti sebagai ketua kelas terpaksa memutuskan untuk tampil mewakilkan teman-temannya, tentu saja ia memaksa Raga untuk menemaninya dengan embel-embel merchandise the S.I.G.I.T.
“Kalian berdua mau nampilin apa nanti?” Sensen menghampiri Sakti yang tampak sibuk mengerjakan soal latihan Ujian Nasional. “Kok gak keliatan latihan kaya kelas-kelas lain sih?”
“Rahasia,” balas Sakti tetap fokus ke soal Matematika di depannya. “Makanya nanti malam pada nonton kalau penasaran.”
“Ya nonton mah pasti, mana mungkin sih melewatkan penampilan duo maut XII IPA 3,” goda Sensen sambil mengarahkan handycam-nya ke Sakti. “Gue heran aja itu Raga kok malah main futsal di lapangan, gak mau hemat energi buat nanti malem apa?”
“Justru itu caranya nambah energi, Sen, kaya baru kenal kemaren aja ama Raga,” tatapan Sakti seketika berubah mendapati Kei yang sedang berjalan ke arahnya. Semenjak kejadian di Warung Padang, Sakti canggung jika harus berhadapan dengan gadis Jepang tersebut. Sebisa mungkin ia menjaga jarak sedari memikirkan bagaimana harus memulai pembicaraan dengannya.
“Jangan malu-maluin IPA 3 ya nanti malam,” Kei meletakkan dua botol air mineral di meja Sakti.
Belum sempat mengucapkan terima kasih, Sensen justru memperpanas suasana, “Sakti dapet dua botol, gue satu aja gak dikasih nih, Kei?” Tatapan menggoda Sensen ke arah Sakti memperkeruh suasana kagok di antara mereka. “Harusnya gue rekam adegan barusan nih.”
Sejujurnya, hanya Sakti yang merasa demikian karena Kei tampak santai dan bersikap seolah tidak terjadi apa pun. Tidak adil, kenapa cuma Sakti yang resah dan kehilangan sebagian waktu tidurnya di saat Kei itu terlihat biasa saja?
———————