5 jam sebelum Malam Unjuk Kreasi.
“Nanti malam nonton aku sama Sakti ya, Ren,” Raga mengeringkan rambutnya yang masih kuyup dengan handuk.
“Hmm, tapi kelas kita paling terakhir penampilannya, malam banget dong.” Tentu saja Nada tidak akan melewatkan penampilan seorang Satya Bian Nuraga.
“Aku anterin pulang, aku izin ke Bude kamu, yang penting, kamu harus nonton,” Raga meletakkan handuk miliknya di atas kepala Nada. “Untuk penampilan kali ini, harus ada kamu, Ren.” Sorot mata Raga tidak main-main dan sarat makna. “Kan sayang kalau kelewatan pertunjukkan salah satu cowok menawan di Safir Biru,” Di detik berikutnya, Raga kembali ke mode bercanda.
“Ada Canon buat kamu, Ren.” Sayangnya, Nada belum memahami kalimat Raga ketika itu.
———————
3 jam sebelum Malam Unjuk Kreasi.
Sakti menghentikan permainan gitarnya ketika Kei memasuki kelas untuk mengambil tas dan jaket.
“Mau pulang?”
“Iya.”
“Gak nonton Malam Unjuk Kreasi nanti?”