Belum pernah sekalipun dalam hidupnya Sakti merasa semarah ini.
Ia berjalan cepat menyusuri lorong Safir Biru dengan amarah yang tidak terbendung. Tatapannya mengarah ke segala penjuru sekolah, mencoba menemukan seseorang yang selalu ia anggap sahabat. Sakti baru saja mendapati fakta yang meruntuhkan sebagian pertahanannya. Kenyataan mengenai Raga. Tentang penyakitnya. Tentang kemungkinannya bertahan hidup.
Beberapa menit sebelumnya.
Nada tidak sengaja menabrak tubuh Sakti ketika hendak memasuki kelas. Biasanya Sakti hanya akan menanggapi dengan senyuman karena gadis bertubuh mungil satu itu memang dikenal ceroboh. Namun tidak kali ini. Nada sedang menangis, kedua matanya becek dan hidungnya merah.
“Ada apa, Nad?” Sakti memang pintar, tapi tidak pernah sekalipun ia belajar bagaimana menghadapi perempuan yang sedang menangis.
Nada menatap dalam-dalam Sakti disertai kesedihan yang ia tangkap tanpa tahu alasan di baliknya.
“Raga…” Nada berucap ragu-ragu. “Raga sakit Ti—kanker…Raga…” kalimat Nada tertahan oleh air mata yang kembali deras.
Rasanya seperti mendengar sebuah ledakan dahsyat padahal dunia baik-baik saja. Mimpi buruk terbesar Sakti selama ini sebatas tergeser dari peringkat pertama kelas, ia tidak pernah mengira hal lain bisa menjadi semenakutkan ini. Perasaan menyakitkan jenis apa ini?
“Nad, tolong jelasin pelan-pelan, maksudnya apa? Sakit apa?”
“Barusan Dokter Ratna cerita semuanya—Raga harus kemoterapi buat ngelawan penyakitnya…Leukimia…Raga bakalan pergi, Ti…”