CANON

Afina Iskandar
Chapter #39

39 - Air mineral & plester

Selama ini kita selalu berbagi hal yang dimiliki, kenapa rasa sakit itu tidak kamu bagi juga?

“Semua bubar kecuali Sakti dan Nuraga!” Sensen mendengar teriakan keras Pak Pras dari dalam kelas. Ia segera berlari ke arah lapangan untuk melihat apa yang sedang terjadi. 

“Bapak tidak tahu apa yang terjadi di antara kalian. Sekarang kalian lari dua puluh kali keliling lapangan, tenangkan diri kalian, kalau sudah, Bapak mau bicara empat mata dengan masing-masing kalian.”

Momen itu tentu tidak ingin dilewatkan oleh Sensen, ia mengeluarkan handycam-nya lalu merekam Raga dan Sakti yang sedang dihukum berlari mengelilingi lapangan Safir Biru. Sensen terbiasa bertindak tanpa perlu tahu konteks situasinya. Ia tidak tahu apa yang telah terjadi, tapi yang pasti, momen ini penting dan harus diabadikan.

Di putaran pertama, Raga sengaja memperlambat larinya agar dirinya berada di belakang Sakti, ia memilih mengamati sahabatnya dari belakang. Sakti masih belum berbicara sedari tadi, hanya tatapan penuh amarah dan dua pukulan yang diterima Raga. Putaran demi putaran dilalui, hingga ketika keduanya selesai, Raga langsung membaringkan tubuhnya yang banjir keringat di tengah lapangan karena kelelahan dan kehabisan napas. Ia menatap langit biru bersih yang kehilangan para awannya sore itu. Sakti ikut berbaring di sampingnya, masih dalam diam. Sepuluh menit dilalui dua lelaki tersebut dengan keheningan yang hanya dimengerti oleh mereka.

“Kenapa maneh diam aja?”

“Maneh gak pernah semarah ini, sampe pake kekerasan,” Raga melirik sahabatnya, “kalau sampai kejadian kayak tadi, bisa jadi aing udah melakukan kesalahan besar dan pantes ditonjok dua kali.”

Sakti tidak bergeming. Mungkin sedang mencerna jawaban Raga atau memikirkan apa saja yang ingin ia keluarkan dari kepalanya.

“Sakit?”

Lihat selengkapnya