Masing-masing orang sedang berjuang untuk bertahan.
Seminggu sudah Kei pindah sekolah, tidak ada yang tahu pasti ke mana dan kapan ia pergi. Tanpa peringatan dan pamitan, Kei datang dan pergi seenaknya.
“Lo yakin, Nad, Kei gak ninggalin pesan?” Brie duduk di samping Nada sambil merebahkan kepala di atas meja Kei, yang kini tak berpenghuni.
“Enggak,” sahut Nada lesu.
“Gue sempet mikir kita udah cukup dekat loh buat dibilang sahabat,” lagi-lagi Brie berusaha merogoh isi laci meja Kei, berharap menemukan surat atau apa pun yang ditinggalkan gadis tersebut untuk dirinya. Tetap nihil.
“Kei mendadak pindah, Raga udah seminggu absen, Sakti sibuk ngurusin berkas buat jalur masuk undangan, apalagi Dwiki udah gak bareng kita lagi, XII IPA 3 bener-bener kehilangan nyawa,” Brie benar. XII IPA 3 tampak mati. “Bu Ros, apa Ibu sedih melihat keadaan kami saat ini?” Nada bertanya dalam hati.
“Gue masih penasaran, sebenernya ada kejadian apa sih antara Sakti dan Raga? Anak-anak kelas lain masih heboh ngomongin mereka tapi gue gak dapet info sama sekali,” berulang kali Brie menanyakan hal yang sama. Tentang pertengkaran mereka di lapangan, tentang Sakti bertindak di luar kendali, tentang Raga yang hanya diam dan tidak membalas.