“Kita akan pergi menemui Sensen.”
Ai melamun menatap layar jendela mobil sambil memikirkan berulang kali perkataan Mas Sada yang sedang menyetir dalam keheningan. “Pokoknya ikut saja, akan saya jelaskan semuanya nanti,” ucapan Mas Sada sukses membungkam tumpukan pertanyaan dalam kepala Ai.
“Ada pemandangan menarik apa di luar sana?” Mas Sada akhirnya membuka konversasi setelah satu jam penuh keheningan.
Ai tidak menjawab, ia memilih mengalihkan pandangannya ke arah Mas Sada dan menatap lekat-lekat pria itu dari samping.
“Eh, kenapa jadi ngeliatin saya?” Mas Sada terus menyetir dan melihat ke arah depan tanpa melirik Ai sedikit pun. Ai meyakini makhluk satu ini memiliki mata di segala sisi tubuhnya.
“Ya terus harus gimana? Ngeliat jendela salah, ngelihat situ salah, apa saya harus pura-pura pingsan?”
“Saya hanya bertanya ada pemandangan menarik apa di luar sana, kenapa serius sekali? Saya gak pernah bilang kalau itu salah.”
“Jadi saya harus nunggu sampai kapan supaya dapat penjelasan?”
Mas Sada terdiam sejenak, entah sedang berpikir atau memang enggan menjawab. Entah sudah berapa kali Ai menganggap betapa ajaibnya pria satu ini. Pertama, Mas Sada selalu menggunakan bahasa baku. Kedua, Mas Sada jarang sekali menatap lawan bicaranya. Ketiga, jarang sekali rasanya ia melihat lelaki itu tersenyum, meskipun tentu Ai tidak begitu berharap melihatnya, namun Mas Sada tampak jauh lebih menarik saat tersenyum karena menjadi bukti bahwa dirinya benar-benar manusia seutuhnya.
“Ada yang salah dengan wajah saya?”