“Mari bertemu di ujung penantian tanpa penyesalan.”
Nada memandangi dinding impian untuk waktu yang lama, merenungi segala kemungkinan, rintangan dan kepastian. Hanya tinggal dirinya dan Raga yang belum menulis. Sesulit itukah memiliki cita-cita? Dengan nilai dan kemampuannya, rasanya berat bagi Nada menjadi apa yang diimpikannya. Namun setidaknya ia masih punya waktu, apakah Raga pun demikian?
Sosok yang sedang menjadi pemeran utama dalam lamunannya muncul dari pintu kelas dengan seragam penuh keringat dan kotor. Tampak goresan berdarah di dahi sebelah kirinya. “Sebenarnya mereka tuh ngapain aja sih ketika tanding futsal?” Nada bertanya dalam hati.
“Kalau piket jangan sendirian dong, Ren, kan ini bukan cuma tugas kamu. Banyak yang bersedia bantu loh kalau kamu minta.”
“Butuh plester?” Nada tidak menghiraukan perkataan Raga, ia justru merogoh isi tasnya. “Ini adanya warna pink? Gapapa?” Gadis itu menyodorkan sebuah plester merah muda bermotif bintang.
“Gapapa, tapi janji gak bakal piket sendirian lagi?” ucap Raga bersungguh-sungguh. Aku gak bisa selamanya nemenin kamu piket, Ren.
“Iya,” jawab Nada tersenyum. “Nih, pake Betadine dulu sebelumnya biar steril.”
Bukannya meraih Betadine dan plester di tangan Nada, Raga justru mendekatkan kepalanya seakan memberi kode untuk diobati seperti bocah kecil yang baru jatuh dan terluka.
“Jadi inget adegan di UKS waktu kelas X dulu ya,” Nada tertawa seraya melekatkan plester di dahi Raga, “...aku cosplay jadi dokter.”
“Untungnya pasien gak protes karena beneran jadi sembuh, padahal dokternya mimisan parah.”
“Tapi beneran deh, Ga, aku pingin jadi dokter,” Raga kini menatap Nada tidak percaya. “Aku pingin memulihkan mereka yang sakit…ngebantu mereka membangun hidup dan harapan kembali.”
Nada mencari mata Raga, “Aku ingin mereka tahu…bahwa mimpi mereka berharga sekecil apapun kemungkinan mereka bertahan, bahwa setiap detik nafas mereka layak diperjuangkan, bahwa keberadaan mereka berarti untuk dunia dan orang-orang yang mencintai mereka sepenuhnya.”