CANON

Afina Iskandar
Chapter #45

45 - Masa kini

“Sejak hari itu, aku tidak pernah bertemu dengannya di kebetulan-kebetulan mana pun.”

Bagi sebagian orang, hidup berhenti di suatu masa yang dia anggap adalah yang paling indah. Orang itu akan menjalani hidupnya tampak biasa-biasa saja, padahal setengah jiwanya terperangkap di masa entah yang mana. Ia enggan beranjak dari kenangan-kenangan yang membuat hatinya hangat tiap kali diingat, momen yang dianggap zona nyamannya. Semua hal dari hari ini akan menjadi perbandingan dengan yang lalu. Setiap malam sebelum tidur, ia akan membayangkan dirinya terbang menyusuri masa emas itu, menjadi tokoh utama yang hanya mengenal kata bahagia. Sesekali, ia ingin menyalahkan keadaan dan waktu yang merubah tidak hanya orang-orang di sekitarnya, namun juga dirinya. Waktu mengubah prioritas, cara pandang, dan sisa-sisa perasaan. Jika bisa, ia berharap memiliki rekaman masa terindahnya yang mampu ia putar berulang-ulang kali di layar besar, dinikmati sambil duduk di sofa nyaman ditemani secangkir teh madu hangat, sendirian, tanpa memperdulikan hari esok yang menyengat. Karena sebuah ingatan, tidak selamanya dapat diandalkan.

Ai merasa sosok di balik podcast Tera adalah dia yang berhenti hidup di masa kini dan membiarkan dirinya tertinggal di masa SMA. Jejak-jejak perasaan yang ditata rapi menjadi sebuah podcast dan membuat siapapun tersedot ke dalam kisahnya, rekaman suara ini adalah bukti ketidakmampuan si penulis untuk keluar dari masa ternyamannya. Ataukah cara dia mengenang seseorang?

“Masa lalu terasa lebih aman daripada masa kini karena cerita lama jauh lebih familiar.”

Ai sudah tidak lagi terkejut bagaimana Mas Sada menelusuri pikirannya. Ia tidak bisa membayangkan apa yang telah dilalui Mas Sada di masa lalu hingga membentuknya seperti sekarang.

“Batas antara masa lalu dan sekarang hanya sejengkal, kemarin dan hari ini, mengerikan sekali ya, mengetahui bahwa beberapa detik yang lalu bisa secepat itu berubah bentuk menjadi kenangan.”

“Lebih memilih mana, Mas, menjadi yang diingat atau orang yang selalu mengingat?”

Mas Sada berdehem tanpa memaparkan jawaban.

“Penulis Tera pasti kesepian, dia seperti satu-satunya yang tertinggal. Cuma dia yang mengingat kisah masa SMA, di saat teman-teman yang lain sudah melangkah entah ke mana, meninggalkannya sendiri di kelas XII IPA 3 yang besar dan sepi. Dia cuma termenung menatap papan tulis yang kosong, menanti bel istirahat yang tidak kunjung berbunyi. Dia tidak tahu kapan harus keluar dari sekolah dan berganti seragam.”

“Menurut saya, tidak selamanya menjadi mereka yang mengingat itu menyedihkan. Mungkin mereka kesepian, tapi bisa jadi itu satu-satunya cahaya hidup mereka, cara untuk bertahan.”

“Tetap saja, aku lebih memilih diingat, setidaknya saat sendirian, aku tahu diriku masih berarti bagi satu orang di luar sana. Dia yang memandang langit dari jendela mobil sambil mengingat hal menyenangkan tentangku.” Ai tidak tahu sejak kapan dirinya lebih nyaman mengenakan bahasa formal di depan Mas Sada, rasanya seperti dua tokoh novel yang sedang berdialog.

“Saya rasa, di dalam kisah Temu Raga, Nada dan Raga sama-sama mengingat dan diingat. Mereka tidak akan kesepian karena meyakini hal itu, mereka berdua berusaha untuk tidak saling melupakan.”

Kata “Temu Raga” dari mulut Mas Sada menyadarkan Ai akan satu hal, ia segera meraih buku catatannya dan menuliskan sesuatu. Astaga, kenapa tidak pernah terpikirkan olehnya sebelumnya?

Lihat selengkapnya