CANON

Afina Iskandar
Chapter #49

49 - Pendahuluan & penyesalan

Kalau dia tidak pernah terlihat menangis, apa artinya dia terlampau kuat atau aku terlalu lemah untuk bisa menjaganya?

“Mau?” Mas Sada menawarkan satu pak rokok yang masih rapi terbungkus plastik.

“Nanti ada yang ikut ngerokok kalo gue ambil,” jawab Dipta tersenyum seadanya. Mas Sada cukup pintar untuk mengetahui “siapa” yang dimaksud Dipta. Ia memasukkan kembali pak rokok ke dalam tasnya dan mencari tempat yang teduh untuk duduk.

“Lo ngerokok aja kalau mau, temen-temen gue ngerokok semua, udah biasa gue,” Dipta membuka tutup botol minuman yang ia beli di minimarket dan ikut duduk di samping Mas Sada. Setelah dua jam perjalanan, mereka akhirnya memutuskan menepi di sebuah POM bensin karena April tidak henti-hentinya mengomel untuk ke toilet.

“Saya juga tidak merokok. Itu cuma cadangan kalau sedang berada dalam situasi canggung.”

“Haha santai aja kali ama gue,” kali ini Dipta tertawa, ekspresinya persis saat ia memandang teman kecilnya sepanjang perjalanan. Dipta dan April tidak berhenti berbicara, tertawa, bercanda, bertengkar hingga saling mengejek di dalam mobil. Sesekali Dipta menyentil April dan ia pun membalas menjambak rambut pria itu. Mas Sada yang duduk sendiri di kursi belakang dipaksa menjadi pengamat meskipun tanpa diminta pun, memang sudah nalurinya mengobservasi berbagai hal. Mas Sada sesekali melirik ke kaca tengah untuk melihat lebih jelas ekspresi keduanya dan menginterpretasikan karakter masing-masing.

“April emang gitu, tampangnya galak kadang-kadang.”

“Kalian berdua mirip orang yang saya kenal.”

“Mirip bagian mananya?”

“Teman saya, namanya—Dwiki, dia juga punya sahabat perempuan sejak kecil sampai sekarang.”

“Tahu dari mana gue sama April temenan dari kecil?”

“Sama seperti kalian, meskipun mereka tumbuh bersama, mereka sering bertengkar, tapi mereka selalu ada untuk satu sama lain.” Mas Sada tidak berniat menanggapi pertanyaan Dipta. “Karena terbiasa bersama, tidak ada yang menyadari bahwa hati mereka masing-masing sudah dilibatkan, tidak tahu sejak kapan, mungkin dari awal. Dwiki menyadarinya terlebih dahulu, tapi dia tidak berani menghancurkan zona nyaman dirinya dengan Brie.”

Lihat selengkapnya