“Udah dibalikin mobilnya dua minggu yang lalu,” Ai mengatur nada bicaranya setegas mungkin untuk menyembunyikan rasa bersalahnya. Bagaimana tidak? Ia meninggalkan calon editor yang baru dikenalnya beberapa waktu sebelumnya, di antah berantah, tanpa negosiasi ataupun diskusi, menggunakan mobilnya tanpa izin, dan tidak menghubunginya satu kali pun selama dua minggu. Calon penulis macam apa kamu, Ai? Karena tidak sanggup bertatap muka langsung dengan Mas Sada, Ai memohon pada kakaknya untuk mengembalikan mobil Mas Sada ketika sudah tiba di Jakarta. Tidak disangka, hari ini datang juga. Ai harus berhadapan langsung dengan si pemilik ekspresi paling datar seantero galaksi, di taman rumah sakit, dengan es krim karamel kesukaannya.
“Saya tahu.”
“Oh.” Suasana kembali hening dan canggung.
“Menurut perhitungan saya, kamu akan menghubungi saya beberapa hari setelahnya, ternyata perkiraan saya bisa salah juga,” Mas Sada membuka bungkus es krim dan mencicipinya tanpa ragu.
Ai mulai khawatir jika ia terlalu banyak berinteraksi dengan makhluk di depannya, semua yang keluar dari mulut Mas Sada semakin terdengar berdasar dan masuk akal.
“Manis sekali, apa yang bisa dinikmati?” Mas Sada mengomentari es krim karamel yang mulai meleleh di tangannya.
“Lah, ngapain dibeli kalau gak suka manis?”
“Kata Utari, ini cemilan kesukaan kamu,” balas Mas Sada singkat, seolah itu jawaban yang tepat.
“Terus?”
“Konon makanan kesukaan bisa bikin suasana hati nyaman,” Mas Sada berteori penuh percaya diri.
“Bukan hanya soal makanan enak, tapi juga orang yang tepat,” Ai langsung menyesali perkataannya barusan.
“Maksudnya?”
“Untung tidak semua penghuni asteroid Eunomia pintar,” bisik Ai sambil memalingkan wajahnya. “Jadi, ada urusan apa ke sini?” Naluri menggunakan bahasa baku Ai muncul kembali di depan Mas Sada.
Mas Sada yang sedari tadi mempertanyakan bagaimana Ai bisa menyukai makanan semanis itu pada akhirnya tetap menghabiskannya. Aneh! Ia kemudian mengeluarkan sebuah tumbler hitam dan meneguk habis isinya, entah apa itu, tetapi aromanya mengingatkan pada ocha hangat yang pernah Ai cicipi di Kyoto. Empat menit berlalu tanpa dialog apa pun sampai Ai berpikir entah Mas Sada tidak mendengar pertanyaannya atau memang enggan menjawab. “Do I waste my time here?” keluh Ai dalam hati.