CANON

Afina Iskandar
Chapter #54

54 - Putra Bima Sakti

Bandung, 2010.

Sakti memasuki kelas dengan tumpukan berkas di tangannya, pandangannya mau tidak mau langsung tertuju pada sosok gadis di pojok ruangan. Ia sedang memandangi cap tangan para murid XII IPA 3 yang masing-masing tertera nama di bawahnya. Hal itu jadi mengingatkan Sakti beberapa bulan lalu pada saat mereka akan mengikuti lomba dekorasi kelas dan Sensen menyarankan semua siswa membuat cap tangan di dinding bagian belakang untuk menghemat ongkos—sepertinya Sensen memang terlahir untuk menjadi bendahara. Semua jejak tangan terukir jelas dan rapi di sana, termasuk milik Bu Ros.

“Kalau mau piket bareng-bareng dong Nad, kan yang pake kelas ini bukan cuma kamu,” Sakti berjalan mendekati Nada yang sedari tadi menempelkan tangannya pada cap tangan Raga. Tangannya begitu tampak mungil disandingkan dengan cap tangan Raga. Nada melirik Sakti tidak bersemangat, “Ternyata IPA 3 pernah serame ini ya?” ucapnya sembari memperhatikan cap tangan teman-teman sekelasnya yang lain. Entah pertanyaan atau pernyataan, yang Sakti tahu, Nada hanya butuh didengar.

“Awalnya Bu Ros, terus Dwiki, tiba-tiba Kei, dan sekarang Raga. Kenapa semua pergi satu per satu ya? Gak pake pamit lagi..”

Nada merupakan gadis paling ceria yang pernah Sakti kenal. Tidak ada yang pernah menyadari seberapa berat hari-hari Nada lalui saking hebatnya ia menyamarkan isi hati dan kepalanya. Namun sore ini, Sakti tidak mendapati sinar yang biasanya terpancar dari gadis itu.

“Yang paling menyedihkan dari perpisahan itu mereka yang ditinggalkan tiba-tiba.” Ada pilu dan rindu dalam kalimat itu. “Karena, di lubuk hati yang terdalam, mereka masih berharap, menunggu, mengenang.”

“Raga pasti balik, Nad. Dia janji bakalan tanding futsal lagi kalau udah sehat.” Sejujurnya Sakti pun tidak yakin dengan perkataannya sendiri, tapi baginya, jika harapan itu bisa menghidupkan semangat Nada, dia tidak keberatan menjadi pembual. Ya, dia sudah berjanji pada Raga, untuk menjaga Renada. Dan bagi seorang Sakti, janji adalah hutang seumur hidup.

“Tolong jagain Renada ya, dia itu ceroboh. Selalu sibuk nolongin orang lain, suka lupa sama dirinya sendiri. Dia gak pernah ngeluh kalau capek, dia gak pernah gak senyum meskipun lagi sedih, apalagi marah. Buat dia, kenyamanan orang lain lebih penting. Jangan biarin dia piket sendirian di kelas sepulang sekolah. Kalau maneh gak bisa bantu, seenggaknya temenin dia. Ajak dia ngobrol, atau sekedar jadi pendengar. Tolong jagain Renada semampu maneh ya.”

Lihat selengkapnya