Jakarta, 2023.
“Anda betul orang di balik Podcast Temu Raga?” Mungkin waktu pelajaran Bahasa Indonesia, Mas Sada lebih sering absen, sehingga ia tidak begitu terlatih menyusun struktur tulisan atau pidato yang terdiri dari pendahuluan, isi dan penutupan. Mas Sada kerap melewatkan bagian pendahuluan dan tanpa konteks, menyerang lawan bicaranya dengan masuk langsung ke bagian inti.
“Eh?” reaksi Sakti sesuai dugaan, layaknya korban yang didesak bayar hutang.
“Euh—maksud rekan saya, Anda tahu sesuatu tentang podcast Temu Raga?” Ai mulai merasa harus membereskan kekacauan yang tiap kali diperbuat Mas Sada. Kok jadi gue yang repot ya?
“Maksudnya?” Ekspresi Sakti bertransformasi menjadi sesuatu yang sulit diinterpretasikan. “Saya hanya diberitahu kalau Anda berdua berniat mengulas tentang SMA Binar Surya dan butuh beberapa testimoni alumni, jadi saya mengiyakan.”
“Jadi Anda belum pernah sama sekali mendengar podcast Temu Raga?”
Apa kalian pernah bertemu dengan orang yang memilih diam dibandingkan berbohong? Inilah yang Ai tangkap dari mimik Sakti, bagaimana ia mengalihkan pandangan, mengepal tangan, menelan ludah. Putra Bima Sakti. Tidak terpikir bahwa ia lah si manusia paling kesepian XII IPA 3. Sang penulis podcast Temu Raga. Sahabat Raga. Penjaga Nada. Perekam handal yang mengandalkan memori untuk mereka ulang peristiwa-peristiwa penting ketika remaja. Bagi Ai, ialah pemeran utama di kisah Canon.
“Ganita sudah mengkonfirmasi bahwa semua yang diceritakan dalam podcast itu berdasarkan kisah nyata semasa SMA, 13 tahun yang lalu, setiap detail dan penggambarannya sesuai.” Mas Sada belum berhenti melayangkan anak panahnya yang runcing dan tajam. “Anda satu-satunya tokoh yang menggunakan nama asli tanpa nama lengkap. Anda bahkan menciptakan nama keluarga baru untuk Nada dan Raga.”