CANON

Afina Iskandar
Chapter #56

56 - Memori baik

SMA Safir Biru, 2010.

Seberapa lama kebaikan seseorang akan melekat di ingatan orang lain? Jawabannya, tergantung. Setiap orang punya hak untuk memilah memori mana saja yang layak dipertahankan dalam ruang ingatan. Hebatnya, ada saja manusia yang memutuskan untuk sekedar mengingat hal baik dari orang di sekitarnya.

Bu Ros memandang tajam Raga, mengisyaratkan bahwa ia benar-benar murka. Tapi semua orang juga tahu betapa lemah dan tidak teganya Bu Ros ketika berhadapan dengan para muridnya.

“Gak bosan kamu?” Bu Ros menyilangkan kedua tangannya dengan tampang kecut.

Raga berdiri menahan senyum, tanpa sedikit pun menunjukkan rasa bersalah, kedua tangannya ia sembunyikan di balik punggung.

“Ibu manggil saya?” Sakti hadir dari belakang Raga dengan mimik penuh pertanyaan.

“Iya,” Bu Ros menghela napas pura-pura lelah. “Saya gak ngerti ya, kalian ngaku bersahabat tapi kok bisa berlawanan sekali ya.”

“Namanya juga jodoh, Bu,” Raga menjawab asal, masih dengan senyuman usil khasnya. Sedangkan Sakti memilih diam, karena ia tahu itu hal paling aman dilakukan ketika Bu Ros sedang naik pitam.

“Sakti, teman kamu ini, ketahuan bolos lagi. Padahal sudah kelas XII, UN tinggal beberapa bulan lagi.”

Tidak perlu jawaban, cukup menanggapi dengan anggukan. Apapun yang terjadi, ingat, harus selalu setuju dengan Bu Ros.

“Ibu minta tolong sama kamu, untuk nasihatin dia, kasih Raga pengertian bahwa sudah bukan waktunya lagi dia main-main kalau mau lulus. Ibu gak mau liat dia pake seragam putih abu-abu lagi tahun depan.”

“Baik, Bu,” kali ini Sakti menjawab patuh.

Lihat selengkapnya