CANON

Afina Iskandar
Chapter #57

57 - Kehilangan

Rooftop Rumah Sakit Medikara, 2023.

Raga tidak meredup meskipun banyak yang berubah dari dirinya. Tiga belas tahun adalah perjalanan panjang, bagi Raga, bagi Sakti, bagi semua orang tentunya. Mereka bukan lagi dua lelaki 17 tahun berseragam SMA yang bisa bertanding futsal sesuka hati sampai harus diusir satpam karena gerbang sekolah akan ditutup. Mereka bukan lagi dua orang yang bisa bercanda kapan pun di kelas, membuat Nada kesal dan berakhir dengan omelan Bu Ros di ruang guru. Kisah yang penuh binar dan sayang bila sekedar dijadikan kenangan. Tapi bukankah itu bagus, hanya menghimpun memori yang baik-baik saja, seperti ujar Bu Ros, kapasitas otak terbatas untuk menjadikan hal buruk sebagai aset utama dalam kepala. Lucunya, kita tidak pernah benar-benar tahu teori melupakan, apalagi mengenyahkan ingatan buruk.

“Maneh—makin ganteng eui.” Ya, dia masih Raga yang sama. Senyumannya, suaranya, cara dia membuat orang-orang di sekitarnya merasa terhibur dan nyaman. Yang berubah mungkin hanya bobot tubuhnya yang menyusut, lingkar matanya yang menghitam, garis rahang yang menegaskan rupa dewasa, rambutnya yang lebih panjang dan tentu saja, crutch dalam genggamannya. 

“Gimana kabar maneh?” Raga tahu pertanyaan Sakti sarat makna. Perihal penyakitnya, perihal kehidupannya, perihal proses pemulihannya, perihal rasa kehilangannya.

“Masih hidup, Ti.” jawaban itu diiringi senyuman khas Raga. “Buat aing itu anugerah terbesar.”

“Sudah—sembuh total?” Sakti bertanya ragu-ragu.

“Semoga ya, doakan saja.” Senyuman lembut itu masih belum enyah dari figur Raga.

“Sekarang tinggal di mana?” Maneh kemana aja? Kenapa menghilang? Kenapa baru muncul sekarang? Apa yang terjadi selama ini? Kenapa tidak menemui Nada di saat terakhirnya? Rangkaian pertanyaan itu lah yang sebenarnya memenuhi kepala Sakti, namun membendungnya dalam-dalam adalah pilihan terbaik.

Lihat selengkapnya