CANON

Afina Iskandar
Chapter #58

58 - Dokter Renada

2016.

“Perkenalkan, dia abang saya,” ucap Nada penuh percaya diri di depan para residen dan seniornya di rumah sakit. Sakti yang mendadak dianggap saudara kandung Nada tidak punya pilihan selain mengiyakan pernyataan sepihak tersebut. Predikat Sakti yang cemerlang menyelamatkan Nada dari kelakuan semena-mena para oknum yang merasa punya hak menindas sejumlah mahasiswa kedokteran yang sedang koas, mulai dari mengganti jadwal piket jaga seenaknya, mengintimidasi untuk melakukan tugas di luar ketentuan, memeras para korban, hingga melakukan perundungan secara verbal maupun fisik.

“Kamu sendiri yang bilang kalau ada apa-apa jangan sungkan minta bantuan,” Nada membela diri ketika ia dan Sakti makan malam berdua di rumah makan Padang tidak jauh dari rumah sakit.

“Iya, tapi briefing dulu dong, Nad. Saya kan gak jago ngarang cerita tiba-tiba. Saya dokter, bukan penulis skenario. Kalau besok-besok mereka minta bukti kartu keluarga gimana?”

“Mereka semua dokter, Sakti, bukan pegawai kecamatan. Kalau minta berkas juga paling sertifikat DNA.”

“Hasil tes genomik maksudnya,” koreksi Sakti.

“Nah, iya itu.” Nada menyantap makanan dengan lahap karena belum sempat menjawab panggilan lapar perutnya sejak sepuluh jam yang lalu. “Lagian kamu kan dua angkatan di atas aku, pantes lah jadi abang-abangan. Hehehe.”

“Saya lebih muda satu setengah bulan dari pada kamu ya. Lagipula kalau mau jadi adik saya gak bisa sembarangan, harus melalui seleksi tertentu. Kayanya kamu belum tentu bisa lulus, Nad.” Hanya ketika berhadapan dengan Nada, Sakti bisa menjadi sosok berbeda yang dirinya sendiri pun baru kenal. Sakti yang lebih menyenangkan. Sakti yang terbuka. Sakti yang berwarna.

2017. 

“Nih,” Sakti menyodorkan susu stroberi pada Nada yang tidak bisa berhenti menangis sedari tadi.

“Waktu pasien meninggal, orang yang paling bersedih itu keluarga terdekat mereka. Kita sebagai dokter justru harus jadi penguat, Nad. Sedih boleh, tapi jangan terlalu lama. Ini situasi yang mesti siap kita hadapi kapan saja,” Sakti ikut duduk di tangga darurat, satu-satunya tempat di rumah sakit yang jauh dari hiruk pikuk, teriakan, isakan, dan kehilangan.

“Kamu gak pernah bilang kalau dokter gak boleh nangis.”

“Memang gak. Aku bilang kalau jadi dokter harus tangguh dan tahan banting.”

Nada tidak berkomentar, ia memilih menenggelamkan kembali kepalanya di antara kedua tangan. Meneruskan sesi melampiaskan kesedihan karena ini kali pertama dirinya menyaksikan pasiennya kehilangan nyawa.

“Kenapa air mata warnanya bening, Nad?” tahu-tahu Sakti bertanya di luar konteks. “Soalnya kalau warna hijau namanya air matcha.”

“Garing,” Nada menatap Sakti dengan muka berantakan dan mata berair. Sakti tahu tatapan itu memberinya kode keras untuk diam, tapi Sakti tidak peduli.

“Gerakan apa yang paling susah dilakuin?” Ia belum menyerah dengan kegaringannya.

“Kayang sambil loncat di tempat,” jawab Nada asal.

“Salah,” Sakti menggelengkan kepalanya. “Move on.” 

“Kamu dong itu Ti,” Senyum Nada akhirnya mengembang.

“Garing tapi menghibur kan?” Sakti menyodorkan satu pak tisu bergambar Minions. “Tuh ingus ke mana-mana,” ia menyeka hidung Nada, persis seperti perlakuan seorang abang ke adik perempuannya. Dan begitu lah cara Sakti dan Nada saling menguatkan kala hidup terasa terlalu berat untuk dipikul seorang diri. Tangga darurat adalah saksi kerecehan dua manusia yang berusaha menghibur satu sama lain, usai mengerahkan tenaga, waktu, pikiran mereka guna menyelamatkan para pasien.

Lihat selengkapnya