“Buat aing, matahari terbit itu menenangkan. Karena menandakan kehadiran hari baru, jadi masalah-masalah di hari sebelumnya keliatan mengecil dan lebih sederhana. Matahari terbit, harapan baru juga terbit. Kegelisahan-kegelisahan di hari kemarin secepat itu jadi masa lalu setelah terbit fajar.” Sakti tersenyum kecut, “Aing pikir itu berlaku untuk semua hal, tapi ternyata, waktu Nada pergi, ia gak kunjung kembali meskipun aing tunggu matahari terbit hari-hari berikutnya. Seminggu, sebulan, enam bulan, satu tahun, dua tahun, rasa kehilangan ini gak kunjung menyiut dan bayangan Nada sedikit demi sedikit samar. Aing bukannya sembuh, tapi malah mati rasa. Semua kemungkinan di kepala aing berubah jadi penyesalan. Kalau saja aing lebih cepat menangani kondisi Nada, kalau saja aing memprioritaskan Nada dan bukan pasien lain, kalau saja aing lebih gesit mencari ventilator buat Nada, kalau saja—kalau saja aing gak pernah mendukung Nada buat jadi dokter, mungkin…mungkin Nada masih ada di sini, Ga, sehat wal afiat, bisa ketemu maneh, bisa tersenyum lagi dan tidak sak....”
Sebuah tinju menghantam secara tiba-tiba pipi dan ujung bibir Sakti. Sakti terhuyung tidak berdaya dan melirik ke arah Raga terkejut.
“Aing gak pernah punya kesempatan buat bales pukulan maneh tiga belas tahun yang lalu,” Raga mengelus tangannya yang memerah. “Ternyata—cukup bikin lega ya.”
“Maneh masih dendam?” Sakti masih belum percaya dengan apa yang baru saja terjadi. Tampak sepercik darah dari ujung bibirnya yang mulai membiru.
“Aing gak pernah sekali pun dendam sama maneh. Satu-satunya orang yang perlu disalahkan di sini adalah aing. Membebani sekian tahun hidup maneh demi keinginan pribadi aing. Merasa paling tertekan dan menderita padahal setiap orang punya perjuangannya masing-masing. Sekarang…sekarang waktunya maneh hidup untuk diri maneh sendiri. Maneh berhak untuk tidak mendahulukan orang lain.”
Sakti terdiam mendengar ucapan Raga, sosok yang pernah menjadi manusia terdekat dalam hidupnya, yang ia pikir sudah meninggalkannya bertahun-tahun, yang ia pikir telah terluka dan kecewa karena dirinya.
“Kapan terakhir kali maneh dengerin kata hati sendiri?” Pertanyaan Raga menembus lapisan perasaan terdalam yang sudah lama karam. Deretan kata itu perlahan merobek pertahanan yang coba dibangun Sakti bertahun-tahun.
Tidak tahu. Mungkin karena sudah terlalu lama, atau memang sejatinya, ia tidak pernah tahu bagaimana caranya. Apalagi menjadi dokter ialah perihal mendahulukan keselamatan orang-orang, semua hal adalah tentang orang lain dan bukan dirinya.