CANON

Afina Iskandar
Chapter #61

61 - Choki-choki terakhir

“Kamu apa kabar?” Nada meletakkan dua cangkir americano panas di atas meja. Kantin Medikara jarang sekali hening, apalagi menjelang jam makan siang. Bising dan riuh menjadi latar pertemuan mereka, meskipun begitu, tidak ada suara lain yang ditangkap pendengaran Raga kecuali tuturan Nada.

“Saat ini sehat Ren, untungnya.”

Bagaimana rasanya bertemu dengan masa lalu yang kerap dibanggakan? Kehadiran yang dipikir hanya menjadi benih-benih memori emas kini ada di hadapanmu, bergerak, bersuara dan sedang menatapmu erat-erat. Raga harus memastikan semua ini nyata dan bukan sekedar salah satu mimpi indah yang mampir ala kadarnya lantas pergi. 

“Sehat, itu yang paling penting,” Nada berbicara seperti para dokter yang pernah menangani Raga. Yang berbeda ialah senyuman tulus itu—tidak pernah benar-benar ia dapatkan sebelumnya.

“Seorang Renada—minum kopi?” Raga tidak tahan untuk tidak mengomentari gadis di hadapannya. “Udah gak minum susu stroberi lagi?”

“Hahaha, masih inget aja lagi,” tawa itu terdengar apa adanya dan Raga rindu. “Kok gak nanya balik kabarku sih?”

“Terlihat bugar dan sukses gini ngapain ditanya?” ujar Raga, konsisten dengan senyumannya.

“Sukses gimana?”

“Sukses ngewujudin mimpi kamu sejak SMA,” jawab Raga bersungguh-sungguh. “Hebat kamu, dokter Renada.” 

Tidak langsung menanggapi, Nada membiarkan angin sunyi melintasi mereka. “Kamu tuh…jauh lebih hebat tau Ga, sudah berjuang sejauh ini. Pasti gak mudah, gak sederhana, gak selalu menyenangkan…tapi—kamu tetap berusaha kokoh, sampai hari ini.”

Puluhan tuturan simpatik Raga sudah dapati selama masa kemoterapi dan proses pemulihan setelah kecelakaan, namun seingatnya, tidak pernah terasa sesejuk ini mendengarnya. 

“Aku tuh sama Sakti nyariin kamu bertahun-tahun, Ga. Nanya sana-sini, saling berdoa dan berharap bisa ketemu kamu lagi, atau setidaknya, tahu kabar kamu. Ternyata, malah semesta yang mendatangkan kamu pada kami,” Nada mengusap cepat matanya yang mulai berkaca-kaca. Terima kasih Tuhan, telah mendatangkan Raga dalam keadaan terbaiknya. 

“Udah ketemu Sakti, Ga?”

“Setelah kamu, Ren.” Momen senyap di antara Raga dan Nada kembali hadir. Ada kalanya yang dibutuhkan antar dua orang yang sudah lama tidak bersapa adalah pertemuan rasa melalui mata tanpa kata.

“Ini buat kamu, Ren. Maaf cuma ada satu, kalau tau bakal ketemu dan ngobrol gini, aku bawain berkotak-kotak deh,” Raga menyodorkan sebuah Choki-choki yang disambut girang oleh gadis di hadapannya.

Lihat selengkapnya