Satu tahun kemudian.
Ai melangkah perlahan memasuki ruang kelas XII IPA 3 dan mengamati seluruh isinya dengan seksama. Cat dinding kusam, coretan tipe-x dan pulpen hampir di seluruh meja kayu yang sulit ditelaah maknanya. Ai mengusap goresan-goresan itu, membayangkan para murid yang menggambar di meja ketika bosan atau bahkan di sela guru menjelaskan, atau bahkan seorang pelajar yang sengaja menuliskan pesan cinta untuk yang terdamba. Di salah satu bangku, Ai duduk dan menyandarkan punggungnya, ia menutup kedua mata membayangkan peristiwa apa saja yang telah terjadi di tempat ini. Sejatinya, tidak ada saksi yang lebih penting dibanding bangunan sekolah itu sendiri. Jika Safir Biru—maksudnya Binar Surya diberi kesempatan untuk bercerita, mungkin sudah puluhan buku biografi dan film dokumenter dihasilkan olehnya.
Bel penanda masuk kelas bergema di seluruh sudut Binar Surya, belasan langkah kaki dan suara riuh mulai terdengar di lorong kelas. Brie memasuki kelas dengan bungkusan gorengan penuh minyak di tangan, disusul Sensen yang menggenggam handycam dan Dwiki yang sedari tadi mengamati makanan di tangan Brie.
“Udah gue bilang, bimbel yang cuma jual kesuksesan alumni itu belum tentu bagus, coba cross check lagi deh, Sen, beneran berkualitas gak tenaga pengajarnya.” Di saat Brie sedang sibuk menggerutu, Dwiki dengan luwes sukses merebut gorengan di tangan Brie. “Buat gue ya semuanya,” ujar Dwiki jahil sambil mencoba kabur dari terkaman Brie.
“DWIKIIII!”
“Hadeuh, urusan rumah tangga kalian biarlah di rumah aja, jangan dibawa ke sekolah atuh, tidak propesional itu namanya,” komentar Mino yang baru memasuki kelas.
“Frofesional meureun,” Raga muncul dari belakang Mino dan turut berceletuk. Pandangannya kemudian beralih pada sosok mungil di belakangnya yang sedang kewalahan membawa tumpukan kertas hasil ujian Kimia. Raga spontan mengambil kertas-kertas tersebut dari tangan Nada, “Kalau jalan lihat depan atuh Ren, bisa kecelakaan beruntun kalau yang di depan berhenti mendadak.”
“Ya makanya pasang lampu sein dong,” balas Nada tersenyum lega menyadari beban di tangannya kini berpindah ke Raga.
“Yeee itu mah kalau mau belok, Ren. Ini mau diapain kertas ujiannya?”
“Tadi kata Bu Farida dibagiin aja, yang nilainya di bawah 60 otomatis remedial,” Kei yang tiba-tiba datang dari belakang Nada menimpali. “Kalau gak mau repot taro aja di meja guru, nanti biar diambil masing-masing, supaya gak pada manja.” Ucapan itu mungkin terdengar menusuk kalau bukan berasal dari mulut Kei.
“Teman-teman, ayo semuanya langsung ngumpul di lapangan, sudah ditunggu Bu Ros untuk foto kelas bersama,” teriak Sakti dengan spanduk besar bertuliskan ‘IPA TIGA’ di tangannya. “Woi Gori, nanti lanjut lagi main kartunya pas jam istirahat, keburu ngamuk Bu Ros kalau kelamaan di bawah matahari.”
“Aing yang ngarahin anak-anak aja, Ti, mendingan maneh atur formasi di lapangan,” Raga tahu Sakti sebenarnya pasti kewalahan mengatur tiga puluh dua murid secara bersamaan.
Ai mengamati suasana barusan dengan berbagai gemuruh dalam hati yang sulit dideskripsikan. Ia beranjak ke arah lapangan untuk melihat berfoto bersama kelas XII IPA 3. Setiap orang mencari posisinya masing-masing, terdapat tiga baris yang mana baris paling atas terdiri dari seluruh murid laki-laki yang memang jumlahnya lebih sedikit dari para perempuan. Baris kedua didominasi perempuan bertubuh tinggi dan baris terakhir untuk para spesies seperti Renada yang tinggi badannya kurang dari 156 cm. Bu Ros duduk tepat di tengah dengan setelan dusty pink, warna yang lembut namun mencolok di antara lautan seragam SMA.