CANON

Afina Iskandar
Chapter #63

Epilog 1

Jakarta, 2023.

Dipta memastikan baterai kamera nya penuh sebelum melangkah masuk ke ruang utama tempat acara berlangsung. Ia melirik ke sebuah papan bertuliskan ‘Welcome to the engagement of April & Ardit’. Dipta menghela nafas pelan, pikirannya bergelut, kacau dan ricuh. Selama 31 tahun hidup di muka bumi, belum pernah ia sebenci ini pada dirinya sendiri. Bahkan ketika nyaris dikeluarkan dari sekolah karena dituduh sebagai pelaku korban tawuran, seingatnya, batinnya tidak diterpa badai kecemasan seperti sekarang.

“Ikhlas men, harus ikhlas,” ucapnya pada diri sendiri, berulang kali, dalam hati. Ternyata benar, tidak ada bisa yang meyakinkan dirimu selain dirimu sendiri. Sejujurnya Dipta enggan berada di tempat ini, hari ini, dalam situasi ini. Beribu alasan sudah dipikirkan untuk absen di hari penting sahabatnya, tetapi begitu April memintanya menjadi tim dokumentasi acara lamarannya, Dipta mendadak kelu dan berbagai alasan yang sudah dirangkai rapi di kepala malam-malam sebelumnya tahu-tahu buyar. Miris sekali dirinya lah justru harus bertugas mengabadikan momen kebersamaan gadis pujaannya bersanding dengan pria lain. Padahal dari kecil sampai dewasa, dirinya lah yang hampir selalu berada di sebelah April ketika berfoto. Dipta menatapi tempat yang akan menjadi berlangsungnya acara tukar cincin, penuh bunga segar berwarna pastel kesukaan April. 

“Lo lelet sih, Bang.  Jadinya disambar orang lain,” Dila, adik perempuan Dipta, muncul dari belakang dan menyenggol tangan abangnya dengan sengaja.

“Udah dandan dan pake kebaya kok tetep gak cantik sih,” ucap Dipta sambil iseng memijit hidung Dila.

“Eh gak usah sentuh-sentuh nanti make up ku berantakan,” Dila lekas meraih cermin kecil dari saku untuk memastikan dirinya tidak perlu touch up lagi. “Kalau mau yang cantik mah ya Pia atuh. Sayang, calon bini orang. Padahal dia cewek tercantik dan terbaik yang ada di dekat lo Bang, care banget lagi sama elo. Doaku sejak kecil biar dia jadi kakak ipar ternyata belum terkabul.” Pia adalah panggilan sayang Dila untuk April karena waktu kecil ia kesulitan menyebut huruf R untuk nama Aprilia, sehingga sebutan ‘Pia’ dipilih menjadi jalan tengah.

“Berisik amat sih nih anak kecil, mending sana bantuin Ibu daripada ngoceh gak jelas di sini.” Dipta memilih menjauh dari lokasi acara daripada mendapat hujaman lebih tajam dari mulut Dila yang sayangnya tepat dan akurat. Mendadak Dipta merasakan getaran dari dalam kantung celananya.

Mas Sada Editor is calling.

“Ya halo,” sapa Dipta.

“Selamat siang Mas Dipta, ini saya Sada, mau mengkonfirmasi pertemuan di hari Senin minggu depan, masih sesuai dengan jam dan alamat yang sudah disepakati?”

Dipta tertawa geli dalam hati kerap kali mendengar gaya bicara Mas Sada, kesannya seperti mendengar KBBI hidup. Dari sebanyak orang yang ia kenal, Mas Sada satu-satunya orang yang konsisten berbicara menggunakan bahasa baku.

“Oh, iya Mas, sesuai rencana awal saja. Kira-kira interview nya berapa lama ya?”

Lihat selengkapnya