CAPSLOCK

Gabriella Gunatyas
Chapter #1

Hidup di Ujung Tali

Lampu kafe berpendar redup, menyorot meja kecil di sudut ruangan. Di sana, Iloona duduk dengan laptop tua yang harus selalui dicolok ke pengisi daya, jari-jarinya menari di atas keyboard. Di layar, file skripsi terbuka, halaman penuh catatan revisi dosen yang terasa tak ada habisnya.

Di sela mengetik, ia bangkit tergesa melayani pelanggan: mengantar kopi pahit, membersihkan meja yang lengket, lalu kembali ke kursinya. Matanya berat, tapi deadline skripsi menunggu. “Kalau aku berhenti sekarang, semua ini sia-sia,” gumamnya dalam hati mengingat tahap ini adalah anak tangga terakhir yang membawa Iloona pada gelar sarjana..

Setelah bisnis Papa bangkrut, Iloona harus banting tulang menyambung hidup dan membiayai kuliahnya sendiri, gaji harian dari kafe hanya cukup untuk bertahan. Di luar jendela, hujan turun deras, seakan ikut menekan pundaknya. Iloona menarik napas panjang, menatap tombol CAPSLOCK yang menyala di layar. Seolah hidupnya sedang dikunci dalam huruf besar: keras, tegas, tak memberi ruang untuk kelembutan.

“Semester akhir ini bukan sekadar ujian akademis. Ini ujian hidup. Aku harus bertahan… meski tali ini bisa putus kapan saja. Kehidupan ini tidak pernah aku bayangkan sebelumnya, 19 tahun hidup di dunia aku merasa seperti princess yang dimanja oleh kehidupan mewah Papa, Mama”

Bab ditutup dengan gambaran Iloona menatap layar laptop, wajahnya setengah diterangi cahaya lampu kafe, setengah tenggelam dalam bayangan. Simbol bahwa ia berada di ambang batas antara jatuh atau bangkit.

Kehidupan Iloona hanya berputar seputar kampus, rumah, dan kafe tempatnya bekerja, di tengah penat itu, ia menyimpan harapan untuk bisa segera lulus dan mendapatkan pekerjaan yang sesuai dengan bidangnya. Tak dipungkiri meski waktu Iloona banyak dihabiskan untuk mengejar skripsi, ia masih sempat menjalani pekerjaan paruh waktu seperti bekerja di cafe, hingga berjualan kue-kue kecil buatannya demi menyambung hidup.

“Target saya bulan ini bisa selesai Pak, agar semester ini saya bisa wisuda, ya terkesannya mepet sekali, tapi saya ingin lulus tahun ini daripada harus nunggu wisuda tahun depan,” kata Iloona kepada Dhani, dosen pembimbingnya.

“Aman sih Il, masih ada sekitar dua bulan buat kamu menyelesaikan skripsi, kerjar terus, buat sebaik mungkin biar kamu bisa daftar sidang di bulan September,” kata Pak Dhani sambil menyemangati Iloona.

Keluar dari ruang bimbingan, Iloona merasa lega, langkahnya sedikit tergesa-gesa karena siang ini jadwalnya part time di kafe dimulai lebih awal. Siang itu Iloona datang ke kampus dengan ojek online, kali ini ia harus naik transportasi umum untuk sampai ke kafe tempatnya bekerja. Masih dengan laptop dan beberapa berkas revisi tadi, Iloona duduk di halte tepat di depan kampusnya.

Di halte, ia duduk sambil merapatkan tas ke pangkuan. Hujan tipis masih turun, membuat udara lembap dan dingin. Bus datang dengan suara rem berdecit, dan Iloona segera naik, mencari kursi dekat jendela. Ia menatap keluar, membiarkan kaca yang basah menjadi bingkai bagi pikirannya yang melayang.

Di tengah perjalanan, pandangannya tertumbuk pada sebuah gedung tinggi berlogo perusahaan ternama. Gedung itu menjulang dengan kaca berkilau, menampilkan citra modern dan penuh wibawa. Iloona terdiam, matanya tak lepas dari bangunan itu. Ada sesuatu yang bergetar di dalam dirinya, sebuah mimpi yang dulu terasa mustahil, kini kembali menyala.

“Suatu hari… aku akan bekerja di sana. Bukan lagi sebagai pelayan kafe, bukan lagi sebagai mahasiswa yang dihantui revisi. Aku akan berdiri di balik kaca itu, mengenakan pakaian kerja rapi, membuktikan bahwa aku bisa.”

Bus terus melaju, gedung itu perlahan hilang dari pandangan. Namun bayangan tentang masa depan tetap tertinggal di benaknya, menjadi pengingat bahwa meski hidupnya kini di ujung tali, ada harapan yang menunggu di seberang. 

Bus terus melaju, gedung itu hilang dari pandangan, digantikan deretan toko kecil dan jalan sempit. Iloona menarik napas panjang, kembali menyiapkan dirinya. Begitu bus berhenti di dekat kafe, ia turun dengan langkah cepat. Aroma kopi dan suara riuh pelanggan langsung menyambut.

Di balik apron sederhana, ia menyembunyikan mimpi besar. Setiap cangkir kopi yang ia antar, setiap meja yang ia bersihkan, adalah bagian dari perjalanan panjang menuju gedung kaca yang tadi ia lihat. Shift kerja dimulai, dan meski tubuhnya lelah, hatinya menyimpan tekad: bertahan, bekerja, dan perlahan mendekati impian.

Bus berhenti di depan kafe, dan aroma kopi bercampur suara riuh pelanggan langsung menyambut Iloona. Ia menarik apron lusuh dari rak, mengikatnya di pinggang, lalu menaruh tas berisi laptop dan berkas revisi di loker kecil. Shift kerja dimulai, di balik meja kasir, antrean sudah panjang. Iloona bergerak cepat: menuangkan espresso, mengocok susu, mengantar pesanan ke meja. Tangan dan pikirannya terbagi dua, setengah untuk pekerjaan, setengah masih memikirkan revisi skripsi yang menunggu.

Seorang pelanggan mengeluh karena kopi terlalu pahit.

“Mbak, ini nggak enak. Tolong ganti ya.”  

Iloona tersenyum tipis, meski hatinya ingin berteriak. Ia kembali ke mesin kopi, memperbaiki pesanan, lalu mengantarnya dengan sabar.

Di meja lain, seorang anak kecil menumpahkan minuman. Iloona sigap membersihkan, meski lututnya terasa lemas. Setiap langkah di kafe adalah ujian kesabaran.

Namun di sela kesibukan, matanya sempat melirik ke tasnya. Laptop tua itu menunggu, skripsi belum selesai. “Proses ini bagian dari perjalanan menuju gedung kaca yang tadi kulihat dari bus, sabar Iloona, tahun ini kamu wisuda, ayok gercep kerjain skripsi” batinnya.

Jam bergulir, shift terasa panjang. Pelanggan datang dan pergi, suara mesin kopi tak pernah berhenti. Iloona menutup mata sejenak, merasakan tubuhnya lelah, tapi tekadnya tetap menyala. Realita shift kerja ini keras, namun ia tahu: setiap cangkir kopi yang ia antar adalah langkah kecil menuju mimpi besar. Di balik apron sederhana, Iloona mencoba menyembunyikan rasa lelah. Saat ia sibuk membersihkan meja, Rani rekan kerjanya, menghampiri dengan senyum nakal.

“Ilona, kamu lagi revisi skripsi ya? Hebat banget masih sempat kerja di sini,” ucap Rani sambil menaruh nampan di rak.

Iloona tersenyum tipis, meski matanya sayu.

“Kalau nggak kerja, gimana aku makannya Ran.. Kalau nggak kuliah, nggak bisa wisuda. Jadi harus dua-duanya.”

Rani menghela napas, lalu menepuk bahunya.

“Aku salut sama kamu, masih mau kuliah, kerja juga. Aku aja dulu waktu SMK pengin cepet-cepet lulus, nggak ngerti aku sama pelajaran, emang dasarnya males mikir aku tuh anaknya.”

Percakapan singkat itu memberi sedikit hangat di tengah dinginnya hujan di luar. Namun tak lama, supervisor kafe datang dengan wajah serius.

“Iloona, meja nomor tiga komplain. Kopinya terlalu pahit. Tolong ganti segera.”

Iloona mengangguk, bergegas ke mesin kopi. Rani menatapnya sebentar, lalu berbisik lirih,

“Sabar ya, Iloona. Semua ini pasti ada hasilnya.”

Iloona hanya tersenyum samar. Di dalam hatinya, ia tahu setiap shift kerja adalah ujian kesabaran. Setiap cangkir kopi yang ia antar, setiap meja yang ia bersihkan, adalah langkah kecil menuju gedung kaca yang tadi ia lihat dari bus, perusahaan impiannya.

Iloona membawa nampan berisi kopi baru ke meja yang tadi komplain. Senyumnya tipis, meski tubuhnya terasa letih.

“Permisi, ini kopinya, sudah kami buat ulang. Semoga lebih sesuai,” ucapnya sopan.

Lihat selengkapnya