Hari pertama Iloona di kantor impiannya terasa seperti mimpi yang akhirnya menjadi nyata. Gedung kaca menjulang tinggi, pintu otomatis terbuka, dan aroma ruangan ber-AC menyambut langkahnya. Dengan blazer sederhana dan tas berisi laptop tua yang kini terasa seperti simbol perjuangan, ia melangkah masuk ke lobi.
Resepsionis menyambut dengan senyum profesional, lalu mengarahkan Iloona ke lantai tempat divisi barunya berada. Lift bergerak naik, dan jantungnya berdebar. “Inilah dunia yang dulu hanya bisa kulihat dari jendela bus, suasananya benar-benar sama seperti yang aku lihat di sinetron-sinetron.” batinnya.
Di ruang kerja, meja dengan komputer baru sudah menunggu. Tidak ada lagi mesin kopi berisik atau meja lengket pelanggan. Kali ini, ia duduk di kursi ergonomis, menatap layar monitor yang bersih, siap menulis laporan pertamanya. Rekan-rekan kerja memperkenalkan diri, beberapa dengan ramah, beberapa dengan tatapan menilai.
Di antara wajah-wajah baru itu, ada satu sosok yang langsung mencuri perhatian: Aline, senior yang dikenal tegas dan perfeksionis. Tatapannya tajam, seolah mengukur kemampuan Iloona sejak detik pertama.
“Selamat bergabung. Semoga kamu bisa mengikuti ritme di sini,” ucap Aline singkat, nada suaranya dingin.
Iloona tersenyum, meski hatinya sedikit bergetar. Ia tahu, perjalanan di kantor ini tidak akan mudah. Namun ia juga tahu, setiap langkah yang membawanya ke sini adalah hasil dari kerja keras yang tak pernah berhenti.
Hari pertama itu ditutup dengan rasa campur aduk: bangga, gugup, dan sedikit terintimidasi. Tapi satu hal pasti, ini adalah awal dari babak baru di hidupnya. Di tengah ketegangan hari pertama bekerja, Iloona bertemu Puti, rekan sedivisi yang sudah bekerja di kantor setahun lamanya.
“Hai, kamu pasti Iloona, kan? Aku Puti. Kita satu divisi. Aku sudah setahun kerja di sini,” ucapnya sambil mengulurkan tangan.
Iloona menyambut uluran itu dengan lega, seolah menemukan sedikit cahaya di tengah ketegangan.
“Iya, senang bisa kenalan. Jujur, hari pertama ini rasanya campur aduk banget.”
Puti tertawa kecil, lalu duduk di kursi sebelah.
“Aku tahu rasanya. Dulu aku juga gugup setengah mati. Tapi tenang, kamu nggak sendirian. Kalau ada yang bikin bingung, tanya aja ke aku.”
Iloona tersenyum, hatinya sedikit lebih ringan. Kehadiran Puti terasa berbeda dari tatapan tajam Aline tadi. Ada kehangatan yang membuatnya merasa diterima.
“Terima kasih, Puti. Aku benar-benar butuh teman di sini.”
Puti menepuk bahunya dengan ramah.
“Mulai dari sekarang, anggap aku support system kamu. Dunia kerja memang keras, tapi kita bisa saling bantu.”
Iloona mengangguk, matanya berbinar. Hari pertama yang penuh tekanan kini ditutup dengan secercah harapan: ia tidak sendirian menghadapi dunia baru ini.
Di ruang kerja yang masih terasa asing bagi Iloona, Puti duduk di kursi sebelahnya, mencondongkan tubuh seolah ingin berbagi rahasia.
“Loona, aku mau cerita sedikit biar kamu nggak kaget. Divisi kita dipimpin sama Mbak Aline. Dia senior banget, perfeksionis, dan… jujur aja, agak keras. Banyak orang segan sama dia, karena kalau ada kesalahan kecil, bisa langsung ditegur di depan semua orang, Jangan kaget dia kalau negur di grup chat suka pake kata-kata pedes dan hurufnya di-CAPSLOCK .”
Iloona terdiam dan, mengingat tatapan tajam Aline tadi pagi.
“Aku sudah bisa merasakannya. Rasanya seperti dia menguji aku sejak pertama kali masuk.”
Puti mengangguk, lalu melanjutkan.
“Selain Mba Aline, ada Mas Trio dan Ferly. Mereka pemimpin divisi lain. Kalo Mas Trio itu orangnya pendiam, tapi sebenarnya sangat jeli. Dia sering jadi penengah kalau ada konflik. Mas Trio ini lulusan luar negeri, nggak heran dia itu pinter banget, cuma ga seserem Mba Aline kalau negur bawahannya. Sedangkan yang itu, baju hitam, namanya Kak Ferly… dia lebih santai, suka kasih ide sederhana tapi brilian. Banyak proyek yang terselamatkan karena pendekatannya yang nggak ribet, aku suka banget sama cara kerjanya, aku pernah jadi anak buah dia tapi cuma enam bulan lalu dipindah ke divisinya Mba Aline.”
Iloona mulai merasa sedikit lega mendengar ada sosok seperti Trio dan Ferly.
“Jadi nggak semua pemimpin di sini keras, ya?”
Puti tersenyum samar.
“Betul. Tapi kamu harus hati-hati dengan Mba Aline. Dia punya reputasi besar, dan nggak suka kalau junior terlihat menonjol terlalu cepat. Aku bilang ini supaya kamu siap. Jangan sampai kamu jadi target.”
Iloona mengangguk, hatinya berdebar. Hari pertama di kantor bukan hanya tentang adaptasi, tapi juga tentang memahami dinamika kekuasaan yang tersembunyi di balik meja-meja kerja.
Ruang rapat dipenuhi suasana tegang. Hari pertama Iloona di kantor langsung diwarnai agenda penting: rapat divisi bersama Aline. Meja panjang berlapis kaca, layar proyektor menyala, dan semua anggota tim duduk rapi menunggu.
Aline masuk dengan langkah mantap, aura senioritasnya langsung terasa. Ia menatap sekeliling, lalu berhenti sejenak pada wajah Iloona.
“Selamat datang, Iloona. Saya harap kamu bisa cepat beradaptasi. Di sini, kita tidak hanya bicara ide, tapi juga hasil nyata.”
Iloona mengangguk, mencoba menahan gugup. Puti yang duduk di sampingnya memberi senyum tipis, seolah menyemangati.
Rapat dimulai. Aline memaparkan target divisi dengan nada tegas, menekankan pentingnya disiplin dan detail.
Saat sesi diskusi, Aline tiba-tiba menatap Iloona.
“Kamu fresh graduate, kan? Coba jelaskan menurutmu, apa yang bisa kamu kontribusikan untuk proyek ini?”
Ruangan mendadak hening. Semua mata tertuju pada Iloona. Jantungnya berdegup kencang, tapi ia menarik napas dalam, lalu menjawab dengan suara mantap:
“Saya mungkin baru, tapi saya terbiasa bekerja di bawah tekanan. Saya percaya ide segar bisa jadi nilai tambah, asal dikombinasikan dengan pengalaman tim.”
Aline menatapnya tajam, lalu tersenyum tipis, senyum yang sulit ditebak apakah itu tanda penerimaan atau ujian berikutnya.
“Baik. Kita lihat nanti apakah kata-katamu bisa dibuktikan.”
Rapat berlanjut, tapi bagi Iloona, momen itu menjadi ujian pertama: berani bersuara di hadapan senior yang keras.
Hari kedua di kantor, Iloona datang dengan semangat baru. Namun semangat itu segera diuji ketika Aline memberikan tugas pertamanya: menyusun laporan analisis data klien. Iloona bekerja teliti, memastikan setiap detail sesuai instruksi.
Saat laporan diserahkan, Aline langsung menatapnya dengan dingin.
“Ini tidak layak. Banyak yang harus direvisi. Kamu harus ulang dari awal, kerjaan kayak gini aja nggak becus, ngerevisi itu capek, sama aja kayak buat laporan baru” ucapnya tajam, lalu menandai hampir seluruh halaman dengan tinta merah.
Iloona terdiam, hatinya perih. Ia merasa sudah melakukan pekerjaannya dengan benar. Setelah rapat selesai, Puti mendekat, mengambil berkas yang sudah penuh coretan.
“Iloona, boleh aku lihat?”
Puti meneliti laporan itu dengan seksama. Setelah beberapa menit, ia menggeleng pelan.
“Nggak ada yang salah. Analisis kamu rapi, datanya akurat. Mungkin Mba Aline sengaja mengerjain kamu. Anak baru memang sering diperlakukan begini.”
Iloona menatap Puti dengan mata berkaca-kaca.
“Kenapa harus begitu? Aku cuma ingin bekerja dengan baik.”
Puti menarik napas panjang, lalu berbisik lirih.
“Empat karyawan sebelum kamu juga resign karena nggak kuat diperlakukan seperti ini. Mba Aline punya cara sendiri untuk menunjukkan senioritasnya. Kamu harus hati-hati, jangan sampai patah semangat.”
Iloona mengangguk, meski hatinya berdebar. Ia sadar, perjuangan di kantor ini bukan hanya soal kemampuan, tapi juga soal bertahan menghadapi tekanan yang sengaja diciptakan.
Malam itu, setelah semua orang pulang, Iloona duduk di meja kerjanya dengan wajah murung. Puti yang masih membereskan berkas mendekat, lalu duduk di kursi sebelahnya.
“Iloona, kamu kelihatan capek banget. Ada apa?”
Iloona menatap berkas penuh coretan merah dari Aline, matanya berkaca-kaca.
“Aku sudah berusaha sebaik mungkin, Put. Tapi rasanya semua yang aku kerjakan dianggap salah. Padahal aku yakin datanya benar. Kenapa harus seperti ini?”
Puti menarik napas panjang, lalu menatapnya penuh empati.
“Aku tahu rasanya. Kamu nggak salah. Aku sudah cek laporanmu, semuanya rapi. Mba Aline memang sengaja mengerjain kamu. Anak baru sering diperlakukan begitu di sini.”
Iloona menunduk, jemarinya meremas kertas.
“Aku takut nggak kuat. Empat orang sebelum aku aja resign karena nggak tahan diperlakukan seperti ini. Apa aku juga akan bernasib sama?”
Puti menepuk bahunya dengan hangat.