Iloona berdiri di tengah rak-rak tinggi, tangannya sibuk menarik berkas tebal bertahun-tahun lalu. Keringat mulai muncul di pelipisnya. Aline sengaja memberi tugas mustahil: mencari dokumen klien tahun 2010, padahal Iloona baru bergabung tiga tahun terakhir.
Trio masuk tanpa sengaja, mencari dokumen lain. Ia berhenti sejenak, melihat Iloona yang kerepotan dengan tumpukan map.
“Kamu cari apa?” tanyanya dengan saura yang tenang.
Iloona menoleh, sedikit gugup.
“Mas Trio… Mba Aline meminta saya menganalisis data lama. Saya coba, tapi arsipnya terlalu banyak. Beliau minta data tahun 2010, tapi setelah saya cari data mulai diaudit di arsip ini tahun 2016.”
“Itu seharusnya bukan pekerjaan kamu, itu tugas divisi saya, buat apa Aline minta itu?” tanya Trio.
Menghela napas, “Saya kurang tahu sih Mas, cuma ditugaskan aja buat analisis.
Trio pun menawarkan bantuan untuk Iloona yang kebingungan menyelesaikan tugas itu, tapi Trio yakin tuga itu cuma akal-akalan Aline untuk mengerjai bawahannya.
“Aku ada datanya, nanti aku email ke kamu ya,” kata Trio.
Iloona terdiam, matanya berkaca-kaca. Ada rasa lega yang muncul. “Terima kasih, Mas Trio… saya benar-benar bingung tadi.”
Trio tersenyum samar, sesuatu yang jarang ia lakukan.
Sore itu, setelah berjam-jam berkutat di ruang arsip, Iloona kembali ke meja kerjanya. Laptopnya berbunyi pelan: notifikasi email baru masuk. Ia membuka inbox, dan di sana ada pesan dari Trio.
SUBJECT: Data Arsip Klien 2010
FROM: Trio
Isi email singkat, padat, tapi jelas menunjukkan perhatian:
“Iloona,
Aku sudah lampirkan data arsip yang kamu butuhkan. Jangan khawatir, ini memang tugas divisi saya. Kalau ada yang tidak jelas, tanyakan saja langsung ke saya. – Trio”
Iloona menatap layar cukup lama. Ada kehangatan yang terselip di balik kalimat sederhana itu. Trio yang biasanya dingin, kali ini menuliskan kata-kata yang membuatnya merasa dihargai.
Tanpa sengaja Joice sempat melihat momen saat Aline memarahi Iloona di ruangannya, bahkan berkas awal yang diberikan oleh Iloona dilempar Aline ke lantai. Joice yang melihat momen itu sontak khawatir dengan Iloona. Namun setelah keluar dari ruangan Aline, Iloona biasa saja, dia bersikap santai dan langsung memperbaiki kesalahan yang sebenarnya kecil tapi dibesar-besarkan oleh Aline.
“Il, are you oke?”
Ia mengangguk lalu mengirimkan hasil revisinya ke Aline. Saat Iloona balik ke meja dengan berkas revisi yang sudah diterima, Joice semakin penasaran.
“Il, kok bisa kamu nggak nangis digituin sama Mba Aline?”
Ia menghela napas panjang,”Jo, ini udah tahun keempat, kalo dulu day one pasti lah aku nangis digituin sama Mba Aline, tapi sekarang udah empat tahun, udah kebal.”