CAPSLOCK

Gabriella Gunatyas
Chapter #4

Rahasia yang Tertinggal

Hari itu, ruang rapat besar dipenuhi seluruh tim. Manajer membuka agenda dengan nada serius: evaluasi KPI bulanan. Iloona duduk dengan wajah tegang, meski ia yakin sudah bekerja dengan baik. Namun ketika grafik KPI ditampilkan, namanya muncul dengan skor terendah.

“Iloona, KPI kamu buruk sekali. Apa yang terjadi? Selama ini laporanmu tidak memenuhi target,” kata manajer dengan suara tegas.

Iloona terkejut, matanya melebar. “Tidak mungkin, Pak. Saya selalu menyerahkan file tepat waktu. Semua analisis sudah saya serahkan ke Mbak Aline.”

Aline tersenyum tipis, seolah menikmati momen itu. “File memang diserahkan, tapi kualitasnya tidak sesuai standar. KPI ini saya susun berdasarkan hasil kerja tim. Kalau buruk, berarti memang ada masalah di kinerja.”

Iloona menatapnya tajam. Ingatannya jelas: semua file sudah ia serahkan, bahkan lebih dari yang diminta. Namun selama ini Aline melakukan silent bullying dengan menahan pekerjaan, tidak meneruskan laporan, dan sengaja membuatnya terlihat gagal.

“Tidak benar! Saya ingat betul semua file yang saya serahkan. Kalau KPI saya buruk, itu karena ada yang menahan pekerjaan saya. Selama ini saya diperlakukan tidak adil,” kata Iloona dengan suara bergetar.

Ruangan mendadak hening. Semua mata tertuju pada Iloona yang akhirnya berani membantah. Aline terdiam, wajahnya kaku. Trio dan Ferly saling menatap, menyadari kebenaran yang selama ini terselubung.

Iloona menghela napas panjang, lalu berdiri. “Kalau begini caranya, saya tidak bisa bertahan di sini. Saya memutuskan untuk resign. Saya tidak mau bekerja di tempat yang membiarkan silent bullying terjadi.”

Lihat selengkapnya