Setelah resign dari kantor penuh intrik, Iloona memutuskan memulai hidup baru di Brisbane, Australia. Ia bekerja sebagai kasir di sebuah supermarket sederhana. Meski pekerjaannya jauh dari dunia korporat yang dulu ia jalani, justru di sanalah ia menemukan kebahagiaan yang lebih tenang. Meski sakit hati setelah karier yang empat tahun dibangunnya kandas, Brisbane menyambutnya dengan udara segar, jalanan yang rapi, dan sungai yang membelah kota dengan indah. Gedung-gedung modern berdiri berdampingan dengan taman hijau, menciptakan harmoni antara urban dan alam.
Meski jauh dari keluarga dan teman-teman lamanya, Iloona merasakan ketenangan. Kesendirian bukan lagi luka, melainkan ruang untuk menyembuhkan diri. Keputusan pindah ke Brisbane bukan sekadar pelarian, melainkan langkah menuju kebebasan. Iloona kini hidup dengan lebih ringan, lebih bahagia, dan lebih damai meski sendirian, ia akhirnya bisa bernapas lega.
Beberapa bulan setelah kepergian Iloona, kantor kembali diguncang kabar besar: sang manajer dipindahkan ke posisi lain. Kursi manajer pun kosong, dan semua orang tahu bahwa Trio adalah kandidat paling layak. Ia punya rekam jejak, integritas, dan kemampuan memimpin yang sudah terbukti. Namun kenyataan berkata lain. Nama yang diumumkan sebagai pengganti justru Aline.
“Serius? Aline jadi manajer? Kompetensinya apa? Dia bahkan sering bikin masalah di tim. Kalau Trio yang dipilih, itu masuk akal. Tapi Aline? Dia nggak bisa apa-apa!”kata Ferly sambil mengumpat.
Ruangan hening. Beberapa orang menunduk, sebagian lain saling berpandangan. Semua tahu Ferly benar, tapi tak ada yang berani bicara. Trio hanya menatap meja, wajahnya dingin. Ia tahu sistem kantor ini penuh nepotisme. Aline kembali dilindungi, kali ini dengan jabatan manajer. Hal itu membuatnya semakin tak betah berlama-lama di kantor itu.
Setelah resmi menduduki kursi manajer, Aline semakin berkuasa. Jabatan itu membuatnya merasa tak tersentuh, seolah semua orang harus tunduk pada aturan yang ia buat.
“Sekarang aku yang pegang kendali. Tidak ada yang bisa menentangku. Trio boleh pintar, Ferly boleh berani, tapi aku yang punya kuasa.”
Sejak Aline resmi menjadi manajer, suasana kantor berubah drastis. Keputusan-keputusannya sering tidak masuk akal, lebih banyak berdasarkan ego daripada kebutuhan tim. Proyek-proyek tertunda, KPI semakin kacau, dan atmosfer kerja semakin penuh tekanan.
“Ini bukan lagi kantor, ini ladang kekacauan. Semua orang jadi korban kebijakan Aline.” Ferly yang selama ini dikenal santai pun ikut mengeluhkan keputusan Aline.
Suatu hari, rapat tim memanas. Aline mengeluarkan instruksi yang tidak realistis, memaksa tim bekerja di luar kapasitas. Trio yang selama ini menahan diri akhirnya angkat bicara.
Trio dengan nada bicara yang tegas, “Aline, cara kamu memimpin tidak sehat. Tim jadi kacau, pekerjaan tidak jelas, dan semua orang tertekan. Ini bukan kepemimpinan, ini penyalahgunaan jabatan.”