Di tepi danau Brisbane, setelah berbagi cerita tentang kehidupannya yang tenang, Iloona mendengarkan Joice mulai membuka kisah lain tentang kantor lama mereka.
Joice memulai cerita itu dengan suara lirih, penuh kenangan pahit.
“Il… kamu tahu? Dua tahun setelah Mba Aline jadi manajer, kantor itu akhirnya bangkrut. Semua proyek gagal, klien pergi satu per satu, dan sistem benar-benar hancur. Saat aku resign, hanya satu orang yang masih bertahan di sana, si Puti loyalisnya. Dia satu-satunya karyawan yang aku kenal yang masih stay. Tapi jujur, aku nggak tahu bagaimana dia bisa bertahan di tempat yang sudah runtuh begitu parah.”
Iloona terdiam, matanya menatap air danau yang berkilau. Bayangan masa lalu kembali hadir, tapi kini terasa jauh, seolah hanya bagian dari cerita lama yang sudah selesai.
“Bangkrut… aku sudah menduga itu akan terjadi. Dengan cara Mba Aline memimpin, memang tidak ada masa depan. Aku hanya berharap Puti bisa menemukan jalan keluar untuk dirinya sendiri.”
Joice melanjutkan ceritanya dengan nada serius. Ia menyinggung tentang kehidupan Aline setelah kantor lama mereka bangkrut.
“Il… seolah karma benar-benar datang pada Mba Aline. Dulu dia hidup sempurna, bisa semena-mena dengan bawahan karena merasa berkuasa. Tapi sekarang hidupnya berbalik 180 derajat. Suaminya selingkuh, mereka bercerai. Anak pertamanya sering mengeluh mengalami silent bullying di sekolah. Hartanya habis, dan sekarang dia hanya hidup ngontrak di rumah sederhana.”
Iloona terdiam, menatap Joice dengan mata penuh rasa iba. Meski dulu Aline begitu kejam, kabar itu tetap membuat hatinya bergetar.
“Jadi… semua kesombongan itu akhirnya runtuh. Aku tidak pernah berharap buruk untuknya, tapi mungkin memang begitulah jalannya. Karma selalu datang dengan cara yang tak terduga,” tambah Ilona.
“Mungkin juga dari doa-doa orang yang selama ini dizaliminya, mendzalimi orang di tempat kerja itu nggak main-main Il, mereka cari nafkah buat keluarga tapi harus berhadapan sama orang seperti Mba Aline,” balas Joice.