Senja di tepi danau Brisbane menjadi saksi momen yang tak pernah dibayangkan Iloona. Setelah Joice mengungkap rahasia bahwa Trio sejak lama menaruh hati padanya, tiba-tiba sosok yang selama ini hanya disebut hanya “mirip Trio” benar-benar berdiri di hadapan mereka.
Trio melangkah mendekat, wajahnya penuh ketenangan namun matanya menyimpan kerinduan yang dalam. Joice tersenyum kecil, momen ini memang sudah direncanakannya bersama Trio sejak lama.
“Iloona… Sosok yang kamu lihat selama ini bukan bayangan. Itu benar-benar Mas Trio. Aku tahu kamu masih men-denial, tapi aku ingin kamu tahu… dia memang ada di sini, dan dia masih menyimpan perasaan itu.”
Iloona terdiam, matanya berkaca-kaca. Trio akhirnya berdiri tepat di depannya, senyum tipis menghiasi wajahnya.
“Iloona… aku tidak pernah berhenti memikirkanmu. Lima tahun ini, aku mencoba melupakan, tapi hatiku tetap tertinggal padamu. Aku tahu aku salah karena dulu hanya diam saat kamu difitnah Aline. Tapi sekarang… aku ingin jujur.”
Trio kini benar-benar hadir di hadapan Iloona, dan Joice tersenyum lega melihat momen yang sudah lama ia rencanakan akhirnya terjadi. Suasana hening sejenak, sebelum Trio membuka suara tentang masa lalu mereka.
“Iloona… aku harus jujur. Sejak lima tahun lalu aku memang sudah mengagumimu. Tapi aku terlalu diam, terlalu takut. Aku pikir dengan diam aku bisa menjaga jarak, tapi ternyata aku justru kehilanganmu. Sejak kamu pergi, aku benar-benar galau. Rasanya seperti ada bagian dari diriku yang ikut hilang.”
Iloona menatap Trio dengan mata berkaca-kaca, lalu menghela napas panjang.
Trio melanjutkan perkataannya, “Iloona… aku tidak ingin lagi ada penyesalan. Aku ingin kita bicara jujur, tanpa intrik, tanpa ketakutan. Aku ingin memperbaiki semua yang dulu tidak sempat aku lakukan.”