Diskusi yang lumayan panjang.
Ia sudah menghabiskan empat jam terakhir di ruang meeting bersama sutradara dan kru film. Yang benar saja! Seharusnya sekarang dia sudah berbaring di atas kasur busanya yang nyaman di kamar tidurnya.
"Tunggu bentar lagi, Renjana. Nanti kita kenalin sama seseorang." Ujar salah satu kru, Renjana hanya menimpali dengan dehaman samar karena terlalu lelah. Sudut matanya melirik ke arah kru yang kini sudah berlalu menutup pintu ruangan.
Oh ya Tuhan, belum hilang pegal di pinggangnya akibat duduk terlalu lama, kini ia disuruh menunggu lagi di ruang rias seorang diri. Managernya jangan ditanya, perempuan gempal berambut keriting itu sudah pasti sedang menyantap hidangan dengan khidmat di suatu ruangan yang entah di mana.
Renjana membalik halaman terakhir dari bundelan naskah tebal di pangkuannya dengan helaan napas berat. Di bawah lampu sorot ruang rias yang terang, tulisan 'I Loved You' di sampul skenario film romantis sejarah itu tampak begitu mencolok. Sebagai seorang aktris papan atas, ia seharusnya bersemangat menyambut proyek film besar ini, namun entah mengapa, deretan dialog berlatar abad ke-19 di dalamnya justru meninggalkan rasa sesak yang aneh di dadanya. Kepalanya mendadak berdenyut hebat saat matanya terpaku pada sebaris teks deskripsi tempat: Weltevreden, Batavia.
Rasa kantuk yang luar biasa dan tidak wajar tiba-tiba menyerang pertahanannya seperti kabut tebal yang melumpuhkan. Perlahan, bundelan naskah itu lolos dari jemarinya yang mendadak lemas, dan kelopak mata Renjana terpejam sepenuhnya saat kesadarannya merosot jatuh ke dalam kegelapan pekat—kilatan cahaya yang perlahan menyilaukan membuatnya menutup mata dengan terpaksa.
***

Aroma pekat lumpur payau dan amis air laut mendadak menyerbu indra penciuman Renjana, menggantikan bau pendingin ruangan rias tempat ia berada beberapa detik lalu. Kepalanya berdenyut hebat saat kelopak matanya dipaksa terbuka oleh sengatan terik matahari yang membakar kulit. Alih-alih melihat lampu sorot di ruangan atau barisan kursi dan alat make up di meja rias, pandangannya justru menangkap bayangan siluet pohon-pohon kenari raksasa yang menjulang tinggi, membingkai sebuah lapangan tanah luas yang asing. Di sekelilingnya, derap kaki-kaki kuda yang menarik kereta kayu bergemuruh membelah jalanan, berbaur dengan riuh rendah suara orang-orang yang bercakap-cakap dalam perpaduan bahasa Melayu pasar dan bahasa Belanda yang kaku. Renjana terenyak di atas sebuah bangku kayu, menatap nanar pada gaun kasual modernnya sendiri, sementara sekelompok wanita dengan gaun kerut megah berlapis korset ketat dan payung kain berjalan melewatinya sembari melemparkan tatapan penuh celaan.