
Ruang makan kediaman Jenderal malam itu terasa begitu mencekam. Cahaya dari lilin-lilin besar di atas kaki kuningan memantulkan bayangan yang menari-nari di dinding kayu jati yang kokoh. Di ujung meja panjang, sang Jenderal duduk dengan wibawa yang dingin. Sementara di sisi kanan meja, Kapten Wira Baskara duduk dengan posisi tegap yang sempurna—punggungnya sama sekali tidak menyentuh sandaran kursi, mencerminkan disiplin militer yang mendarah daging. Jas militer biru tuanya terkancing rapi hingga ke leher, berpadu kontras dengan kulit wajahnya yang bersih namun berahang tegas.
Lalu, pintu geser terbuka. Renjana melangkah masuk.
Wira mendongak, dan sepasang mata elangnya seketika menyipit tajam. Alih-alih mengenakan gaun malam yang anggun dengan rambut yang disanggul rapi sesuai tata krama bangsawan Batavia, Renjana justru memakai gaun sederhana yang longgar, dengan rambut yang dikuncir kuda asal-asalan. Jubah militer milik Wira yang tadi siang dipinjamkannya, kini tersampir begitu saja di lengannya.
Tanpa menunggu pelayan menarikkan kursi untuknya, atau menunggu sang Jenderal memberikan isyarat silakan—seperti yang tertulis dalam hukum etiket tahun 1843—Renjana langsung menarik kursi kayu berukir itu dengan bunyi derit yang cukup keras. Ia mengempaskan tubuhnya, melipat satu kakinya ke atas kaki yang lain, dan mengembuskan napas panjang yang terdengar sangat tidak sopan.
"Aduh, gerah banget ya di sini. Gak ada angin sama sekali," keluh Renjana santai, mengibaskan tangannya di depan wajah.
Tangan Wira yang sedang memegang garpu perak mendadak berhenti di udara. Garis rahangnya yang tegas, tampak mengeras. Seolah sedang bersiap ke medan laga. Sudut bibirnya yang biasa melengkung hangat kini datar tanpa ekspresi. Tatapan matanya lurus menusuk ke arah Renjana, memancarkan rasa tidak percaya sekaligus kegelisahan yang amat sangat atas kelancangan gadis itu di hadapan atasannya.