Captain Wira:1843

Indah Leony Suwarno
Chapter #3

03: Ponsel Genggam dan Rahasia Zaman


Keesokan sorenya, ketegangan di antara mereka belum juga reda sejak perdebatan di meja makan. Renjana sedang duduk bosan di paviliun belakang rumah, memandangi daun-daun pohon kenari yang berguguran, ketika derap langkah tergesa-gesa terdengar dari arah gerbang latihan militer.


Sesosok tubuh tegap melangkah masuk dengan napas yang agak memburu. Itu Wira. Namun, ada yang berbeda kali ini. Jas militer biru tuanya tidak lagi terkancing rapi hingga ke leher; dua kancing teratasnya terbuka, dan lengan kemeja putih di balik jasnya telah koyak, basah oleh noda darah yang terus merembes. Luka goresan panjang akibat sabetan pedang sabre saat latihan tanding tampak memerah di lengan kekarnya.


Seorang pelayan pribumi tua berlari panik di belakangnya sambil membawa mangkuk berisi ramuan dedaunan tumbuk berbau menyengat. "Kapten, mari saya balurkan ramuan kunir dan daun sirih ini agar darahnya mampet—"


"Tidak usah, Bi. Ini hanya luka kecil," potong Wira. Ia duduk di undakan paviliun, mencoba membersihkan darah itu dengan sapu tangan kainnya sendiri dengan kasar. Wajahnya tampak menahan ngilu, mengerutkan dahi tanpa berniat mengeluh.


Melihat hal itu, naluri Renjana sebagai manusia abad ke-21 langsung bergejolak. Bisa infeksi kalau diobati pakai daun mentah begitu! batinnya ngeri. Ia langsung bangkit, merebut mangkuk dari tangan pelayan tua itu, dan menaruhnya di meja. "Bibi tolong ambilkan air bersih hangat dan kain kasa putih yang bersih ya, cepat," perintah Renjana tegas.


Wira mendongak, matanya menyipit gusar saat Renjana tiba-tiba berlutut di depannya. "Apa yang Anda lakukan, Nona? Kembali ke kamar Anda. Saya seorang prajurit, hal seperti ini sudah biasa," tolak Wira, mencoba menarik lengannya menjauh.


"Diam atau luka ini makin parah!" bentak Renjana, tatapan matanya begitu galak hingga membuat Kapten yang ditakuti ratusan prajurit itu tertegun dan refleks terdiam.


Begitu pelayan kembali membawa air, Renjana dengan telaten membasuh darah di lengan Wira menggunakan kain bersih secara higienis, mengusapnya dengan gerakan yang sangat lembut. Wira terpaku. Rasa kesal yang ia pendam sejak semalam mendadak mencair begitu saja. Dari jarak sedekat ini, ia bisa melihat kerutan cemas di dahi Renjana dan binar ketulusan di matanya. Selama hidupnya, Wira dilatih untuk selalu melindungi dan terluka demi orang lain. Ini adalah pertama kalinya ada seseorang yang menatap lukanya seolah-olah itu adalah hal paling berharga di dunia yang harus dilindungi. Rasa hangat yang asing pelan-pelan menjalar di dada sang Kapten.


Lihat selengkapnya