
Pagi itu, mentari baru saja merangkak naik di ufuk timur Batavia, namun hawa gerah khas pesisir sudah mulai terasa menyengat. Di paviliun belakang, Renjana meregangkan tubuhnya. Setelah malam yang panjang memikirkan ponselnya yang mati dan rahasia waktu yang ia pikul, ia merasa tubuhnya sangat lengket. Tanpa pikir panjang, ia melangkah ke kamar mandi batu di sudut paviliun. Bagi seorang gadis abad ke-21, mandi pagi yang lama dengan mengguyur tubuh berkali-kali adalah kemewahan mutlak untuk menjernihkan pikiran. Ia menghabiskan tiga bak penuh air bersih yang tersedia di sana, membiarkan air segar membasahi tubuh dan rambutnya hingga puas, sama sekali tidak menyadari apa yang terjadi di luar dinding batu tersebut.
Ketika Renjana keluar dari kamarnya sambil mengeringkan rambutnya dengan handuk dan berjalan santai, ia tertegun melihat pemandangan di halaman paviliun.
Di sana, di bawah terik matahari pagi yang mulai membakar, tiga orang pelayan pribumi tua dan dua prajurit muda KNIL tampak terengah-engah. Wajah mereka mandi keringat, napas mereka memburu saat memikul ember-ember kayu berat berisi air. Mereka baru saja kembali dari sumur bor artesis publik yang jaraknya hampir satu kilometer dari kediaman Jenderal, karena sumur utama di dekat rumah sedang menyusut parah akibat musim kemarau.
Tepat di tengah halaman, Kapten Wira Baskara berdiri tegap dengan tangan bersedekap di dada. Jas militer biru tuanya tampak rapi seperti biasa, namun ekspresi wajahnya—rahang yang mengeras dan tatapan matanya yang dingin—menandakan badai amarah yang sedang ia tahan.
Begitu melihat Renjana keluar, Wira melangkah tegap menghampirinya. Sepasang matanya yang tajam menatap rambut Renjana yang basah kuyup, lalu beralih ke ember-ember kosong di depan kamar mandi.