Sore itu, mendung kelabu menggelayuti langit Batavia, membawa hawa sejuk yang jarang terjadi. Renjana duduk di sudut paviliun, tenggelam dalam dunianya sendiri. Di pangkuannya, buku harian bersampul kulit pemberian Wira terbuka lebar. Jemarinya menari cepat menggunakan pena bulu, menumpahkan segala kecemasan yang berkecamuk di dadanya.
Ia menuliskan segalanya. Tentang kerinduannya pada sang ibu di masa depan, tentang ketakutannya terjebak selamanya di tahun 1843, dan yang paling krusial—ia menuliskan catatan sejarah tersembunyi yang ia ketahui mengenai konspirasi militer serta takdir tragis yang mengintai sang Kapten. Bagi Renjana, buku ini adalah satu-satunya tempat ia bisa menjadi dirinya sendiri tanpa perlu berbohong.
Tiba-tiba, derap langkah bot yang tegas mengejutkannya. Wira melangkah masuk ke paviliun dengan wajah dingin yang tegang. Ia baru saja kembali dari markas besar Waterlooplein dengan membawa aura kegelisahan yang pekat. Begitu melihat Renjana menulis dengan raut wajah panik dan terburu-buru menutup bukunya, kecurigaan Wira sebagai perwira militer langsung menyala.
"Apa yang sedang Anda sembunyikan, Nona?" tanya Wira, menatap tajam buku di pelukan Renjana. Suara baritonnya terdengar menuntut.
Renjana refleks mendekap buku itu lebih erat ke dadanya. "Bukan apa-apa. Ini hanya buku harian pribadiku."