Captain Wira:1843

Indah Leony Suwarno
Chapter #7

07: Sketsa Wajah dan Perbedaan Bahasa

Dua hari sejak insiden perebutan buku harian itu, Renjana masih mempertahankan dinding es di antara mereka. Namun, sore ini sang Jenderal memanggilnya ke ruang utama dan menyerahkan sebuah kotak anyaman bambu kecil berisi kue ku merah dan kue rangin hangat—oleh-oleh yang baru saja dibawa oleh kurir dari pasar Weltevreden.


"Antarkan ini ke ruang kerja Kapten Wira di paviliun sebelah barat. Katakan itu hadiah atas kerja kerasnya menjaga kediaman ini," perintah ayahnya dengan suara bariton yang dingin.


Renjana menggerutu dalam hati, tetapi ia tidak punya pilihan selain patuh. Dengan langkah malas, ia membawa kotak anyaman itu menuju ruang kerja Wira. Pintu kayu ruangan itu sedikit terbuka, tidak terkunci rapat. Baru saja Renjana hendak mengetuk, gerakannya terhenti saat melihat Wira dari celah pintu.


Sang Kapten tidak sedang memeriksa berkas militer. Jas seragamnya disampirkan di kursi, hanya menyisakan kemeja putih dengan lengan yang digulung hingga siku. Pria itu tampak sangat fokus, menunduk di atas selembar kertas perkamen tebal. Jemari tangkasnya bergerak lincah dan berirama, menggoreskan sebatang arang kecil ke atas kertas dengan penuh perasaan. Garis rahangnya yang tegas, tampak melembut di bawah temaram lampu minyak.


Rasa penasaran Renjana mengalahkan gengsinya. Ia mendorong pintu sepelan mungkin dan melangkah masuk tanpa suara di atas lantai marmer. Saat ia berhasil berdiri tepat di samping meja Wira, matanya seketika membelalak.


Di atas kertas itu, terpampang sebuah sketsa wajah yang sangat indah. Itu adalah wajah Renjana. Namun, Wira tidak menggambarnya mengenakan gaun kaku abad ke-19, melainkan dalam balutan gaun kasual modern dengan rambut terurai bebas—persis seperti penampilan Renjana saat pertama kali mereka bertemu di Weltevreden. Goresan arang Wira menangkap dengan sempurna binar mata Renjana yang hidup dan bebas.


"Wah, ternyata Kapten kaku kita ini pintar menggambar, ya?" goda Renjana tiba-tiba.


Wira terlonjak kaget. Napasnya tercekat dan dengan gerakan panik yang sangat langka, ia buru-buru membalikkan kertas perkamen itu hingga menciptakan bunyi kresek yang keras. Wajah tegas sang Kapten seketika merona merah padam hingga ke ujung telinganya. Ia langsung berdiri tegap, salah tingkah, dan buru-buru membersihkan sisa arang di jemarinya yang mendadak gemetar.


"N-Nona Renjana... sejak kapan Anda di sini?" tanya Wira gagap, kehilangan seluruh wibawa militernya dalam sekejap.


Renjana menaruh kotak oleh-oleh di meja dengan senyum kemenangan yang tertahan. "Sejak kamu lagi serius mengarsir bagian mataku. Lucu banget, ya. Bilangnya bertugas menjaga keamanan, tapi malah sibuk menggambar wajah orang diam-diam."


Melihat Renjana yang terus memperhatikannya dengan tatapan jahil, Wira semakin salah tingkah. Untuk mengalihkan rasa malunya yang sudah di ujung tanduk, ia berbalik ke arah laci mejanya, mengeluarkan buku harian bersampul kulit milik Renjana, dan menyodorkannya ke depan gadis itu dengan kedua tangan yang kaku.


"Saya... saya ingin mengembalikan ini," ucap Wira, suaranya melembut, dipenuhi rasa bersalah yang tulus. Ia menatap lurus ke mata Renjana dengan pandangan memohon maaf. "Saya meminta maaf atas kelancangan saya dua hari yang lalu. Anda benar, saya telah melanggar batas privasi Anda. Saya berjanji tidak akan pernah menyentuh barang-barang Anda lagi tanpa izin."

Lihat selengkapnya