Captain Wira:1843

Indah Leony Suwarno
Chapter #8

08: Kelancangan Renjana Dalam Rapat Militer

Pagi berikutnya, ketenangan di kediaman Jenderal terusik oleh kedatangan tiga perwira tinggi KNIL. Mereka berkumpul di beranda depan yang luas, mengelilingi meja bundar marmer untuk membahas situasi logistik militer yang mendesak. Wira, dengan jas militer biru tua yang terkancing sempurna, duduk di sebelah sang Jenderal sembari membuka peta wilayah Batavia.


Renjana, yang berniat mengantarkan teko teh melati hangat, melangkah perlahan menuju beranda. Namun, langkahnya terhenti di balik tirai pintu besar saat mendengar perdebatan sengit di luar.


"Jalur suplai darat dari pelabuhan Sunda Kelapa ke Weltevreden terhambat karena debu kering yang terlalu tebal dan badai pasir kecil, Jenderal," lapor salah satu perwira dengan frustrasi. "Kuda-kuda pengangkut kita banyak yang dehidrasi dan pingsan di jalan akibat terik kemarau. Roda kereta logistik juga sering tersangkut di tanah pasir yang gembur. Pasukan di barak bisa kekurangan pasokan amunisi jika ini terus berlanjut."


Wira mengerutkan dahi, menatap peta dengan serius. "Kita bisa mencoba memutar lewat jalur timur yang lebih teduh, namun itu memakan waktu dua kali lebih lama—"


"Kenapa tidak pakai jalur air saja lewat kanal?"


Suara jernih Renjana tiba-tiba memotong pembicaraan. Ia melangkah keluar ke beranda dengan santai, meletakkan teko teh di atas meja. Semua mata di beranda seketika tertuju padanya. Wira tertegun, sementara wajah sang Jenderal langsung berubah sekelam awan mendung.


Renjana, yang terbiasa dengan kesetaraan gender abad ke-21, tidak merasa ada yang salah. Ia menunjuk peta di depan Wira. "Batavia kan punya jaringan kanal utama yang terhubung langsung dari pelabuhan ke jantung kota Weltevreden. Walau kemarau dan airnya agak menyusut, perahu-perahu datar jenis tertentu masih bisa lewat karena tidak terpengaruh debu jalanan. Kuda-kudanya juga tidak akan mati kepanasan di jalan. Lebih cepat dan muatannya banyak."

Lihat selengkapnya