Captain Wira:1843

Indah Leony Suwarno
Chapter #9

09: Kencan Rahasia di Pusat Perdagangan

Suasana canggung setelah keributan di beranda pagi itu membuat Wira berinisiatif mengambil langkah tak biasa. Menjelang sore, saat terik kemarau Batavia mulai melunak menjadi hembusan angin payau, Wira menghampiri paviliun Renjana. Ia tidak mengenakan jas militer biru tuanya yang kaku, melainkan kemeja katun putih longgar dan celana kain sederhana—pakaian khas warga sipil kelas atas.


"Nona Renjana," panggil Wira pelan di dekat pintu. "Saya tahu Anda merindukan suasana luar. Jika Anda bersedia menaati kata saya untuk tidak memicu keributan, saya bisa membawa Anda keluar menyamar sebentar."


Mata Renjana seketika berbinar. Setelah berhari-hari dikurung di Weltevreden, tawaran itu bagai oase di padang gurun. Ia segera memakai selendang tipis untuk menutupi rambut kuncir kudanya dan mengikuti langkah Wira menuju sebuah kereta kuda sewaan biasa, menghindari kereta militer milik Jenderal.


Mereka berkendara ke arah utara, menuju kawasan pusat perdagangan tua di dekat Kali Besar, dekat Pelabuhan Sunda Kelapa. Hiruk-pikuk Batavia lama langsung menyambut mereka. Bau rempah-rempah, asap kayu bakar, dan aroma laut bercampur menjadi satu. Wira menuntun Renjana menyusuri jalanan batu, melangkah di antara kerumunan pedagang Tionghoa, Melayu, dan Arab.


Di salah satu sudut dekat jembatan kayu kuno, kepulan asap beraroma gurih menggoda indra penciuman Renjana. Seorang pedagang pribumi tua sedang mengipas tungku tanah liat kecil berisikan kelapa parut dan tepung sagu yang dipanggang di atas cetakan besi.


"Eh, Wira! Itu kan Kue Rangi!" seru Renjana heboh, menunjuk-nunjuk jajanan tersebut dengan mata berbinar bagai anak kecil. "Astaga, di zamanku ini sudah langka sekali! Rasanya masih sama tidak, ya?"


Wira tersenyum geli melihat binar bahagia yang kembali ke wajah Renjana. Ia merogoh saku celananya, mengeluarkan beberapa keping koin tembaga duit kuno, dan membelinya dua porsi yang disajikan di atas selembar daun pisang segar.


Mereka duduk di sebuah bangku bambu panjang di bawah naungan pohon rindang di tepi kanal. Renjana langsung melahap kue rangi hangat yang disiram juruh (kentalan gula malaka) tersebut. Matanya terpejam menikmati rasa gurih kelapa asli yang berpadu dengan manisnya gula tanpa pemanis buatan.


"Enak banget! Rasanya murni banget, beda sama yang pakai pengawet di abad dua puluh satu!" puji Renjana dengan mulut yang agak penuh.

Lihat selengkapnya