Captain Wira:1843

Indah Leony Suwarno
Chapter #10

10: Salah Paham Pakaian Dalam

Pagi itu, Renjana sedang menyisir rambut di paviliun ketika ketukan ragu terdengar di pintu kayu kamarnya. Saat dibuka, Kapten Wira Baskara berdiri di sana. Pria itu masih mengenakan pakaian dinas lengkapnya, namun ada yang aneh dengan sikapnya. Ia berdiri luar biasa kaku, pandangannya lurus menatap pilar atap di atas kepala Renjana—sama sekali menolak untuk menatap mata gadis itu.


Di kedua tangannya yang terjulur kaku ke depan, Wira memegang sebuah nampan perak kecil. Di atas nampan itu, tergeletak pakaian dalam modern milik Renjana—sebuah bra berenda hitam dan celana dalam katun standar—yang baru saja dicuci dan disetrika oleh pelayan rumah.


Di Batavia tahun 1843, pakaian dalam wanita adalah hal yang sangat tabu untuk dilihat pria. Ditambah lagi, wanita era itu memakai pakaian dalam berlapis-lapis yang menutupi seluruh tubuh (seperti chemise panjang dan celana kombor longgar). Melihat sepotong kain hitam yang sangat minim dan berlekuk aneh seperti itu membuat otak sang Kapten korsleting.


"Nona Renjana," panggil Wira. Suara baritonnya terdengar sangat tegang, seolah ia sedang melaporkan situasi perang hidup dan mati. "Pelayan... pelayan wanita di belakang bingung harus meletakkan barang ini di mana. Mereka mengira ini adalah kain jimat atau pakaian luar yang belum selesai dijahit. Maka, saya sendiri yang mengembalikannya kepada Anda."


Renjana melirik nampan perak itu, lalu beralih menatap wajah Wira. Detik berikutnya, Renjana harus mati-matian menahan tawa. Wajah tegas Wira yang biasanya garang di medan latihan kini merah padam sewarna kepiting rebus, bahkan rona merahnya menjalar hingga ke leher dan ujung telinganya. Pria itu terus memalingkan mukanya yang gusar ke arah taman.

Lihat selengkapnya