Malam semakin larut, namun paviliun belakang masih diselimuti keheningan yang hangat. Renjana akhirnya menyerah. Ia sudah berganti pakaian mengenakan gaun Victoria hijau zamrud yang megah berlapis korset kaku, membuat tubuhnya tampak anggun namun gerakannya menjadi sangat terbatas.
Wira berdiri di tengah ruangan kerja, jas militer biru tuanya tampak gagah di bawah temaram lampu minyak. Ia menatap Renjana yang berjalan kaku mendekatinya. "Sebelum kita berangkat ke aula Schouwburg, Anda harus menguasai langkah dasar Waltz gaya Batavia, Nona. Di sana, semua pasang mata akan menilai kita."
Wira melangkah maju, memposisikan dirinya di depan Renjana. Dengan gerakan yang luar biasa kaku dan sopan khas perwira abad ke-19, ia meletakkan telapak tangan kanannya yang hangat di pinggang Renjana, sementara tangan kirinya meraih jemari Renjana, bertautan di udara. Jarak mereka begitu dekat hingga Renjana bisa merasakan hembusan napas Wira di keningnya.
"Ikuti ketukan saya. Satu, dua, tiga... maju. Satu, dua, tiga... berputar," instruksi Wira dengan suara baritonnya yang meneduhkan.
Langkah awal mereka sangat kikuk. Renjana yang terbiasa bergerak bebas beberapa kali tidak sengaja menginjak sepatu bot kulit Wira, membuat sang Kapten meringis tipis namun tetap mempertahankan senyum tenangnya. Wajah tegas Wira tampak begitu fokus, menatap langkah kaki mereka sebelum perlahan mendongak, mengunci pandangannya tepat di manik mata Renjana saat tempo dansa mereka mulai menyatu dan berputar lembut mengelilingi ruangan.
"Ternyata Kapten kaku ini bisa bergerak luwes juga," goda Renjana, mendongak sambil tersenyum manis.