Captain Wira:1843

Indah Leony Suwarno
Chapter #13

13: Kecemburuan Wira Pada Letnan Muda Belanda

Aula Schouwburg Weltevreden malam itu berkilau megah di bawah pendar ratusan lilin yang tergantung di langit-langit tinggi. Denting gelas kaca berbaur dengan gesekan biola orkestra yang memainkan musik Waltz klasik. Renjana, yang akhirnya dibalut gaun hijau zamrud megah dengan rambut yang ditata anggun, langsung menjadi pusat perhatian. Aura pesona seorang aktris papan atas masa depan terpancar alami, membuat banyak mata perwira muda tak berkedip menatapnya.


Wira berdiri beberapa langkah di dekat pilar besar, memegang cangkir porselen berisi teh hangat. Jas seragamnya terkancing rapi, sarung tangan putihnya menggenggam cangkir dengan tenang. Namun, ketenangan itu menguap dalam sekejap ketika seorang letnan muda keturunan Belanda bertubuh jangkung dan berambut pirang menghampiri Renjana.


Letnan muda itu melemparkan rayuan dalam bahasa Prancis yang fasih, membungkuk hormat, lalu mengulurkan tangan. Renjana, yang terbiasa bersosialisasi di dunia hiburan modern, menanggapi keramahan itu dengan tawa renyah. Ia menyambut uluran tangan sang Letnan, melangkah bersama ke lantai dansa untuk sebuah tarian Waltz singkat.


Dari sudut aula, Wira membeku. Pandangan matanya mendadak menajam bagai mata elang yang sedang mengincar mangsa di medan laga. Ia menyaksikan bagaimana Renjana berputar luwes, tersenyum lebar, dan sesekali membisikkan sesuatu yang membuat Letnan Belanda itu tertawa lepas.


Crak.


Wira mencengkeram cangkir porselen di tangannya terlalu kuat hingga hampir retak. Rahangnya mengetat keras, dan buku-buku jemarinya yang terbungkus sarung tangan putih memutih menahan gejolak panas yang mendadak membakar dadanya. Ia tidak pernah merasakan emosi seasing dan seliar ini sebelumnya. Pria yang biasanya selalu tenang menghadapi strategi perang tersulit sekalipun, kini merasa otaknya lumpuh dibakar api cemburu hanya karena melihat gadis masa depannya disentuh oleh pria lain.

Lihat selengkapnya