Begitu kereta kuda militer berhenti di depan paviliun belakang, Wira segera turun dan membukakan pintu untuk Renjana. Namun, keheningan canggung yang bermula dari kecemburuan Wira di aula pesta tadi mendadak pecah oleh suara napas Renjana yang terdengar tersengal-sengal dan berat.
Renjana melangkah turun dengan tubuh yang agak limbung. Tangannya mencengkeram erat dada gaun hijau zamrudnya, sementara wajahnya yang semula merona kini memucat di bawah pendar lentera minyak paviliun. Efek kemarau Batavia yang gerah, ketegangan emosional di lantai dansa, serta lilitan korset kaku berbalang besi di balik gaunnya benar-benar menyiksa paru-parunya hingga batas maksimal. Ia merasa seolah pasokan oksigen di sekitarnya menguap habis.
"Renjana? Ada apa dengan Anda?" tanya Wira, kepanikannya seketika menyala, meruntuhkan seluruh sikap ketusnya. Ia dengan sigap menahan siku Renjana saat gadis itu hampir terantuk anak tangga paviliun.
"Sesak... Wira, ini... korset sialan ini mencekikku," bisik Renjana parau, napasnya naik-turun dengan cepat dan pendek. Dada atasnya terlihat kembang kempis dengan sangat tersiksa. Ia bersandar pasrah pada sebuah pilar kayu koridor yang sepi, kedua matanya terpejam menahan rasa ngilu yang luar biasa di rongga dadanya.
Wira tertegun, menatap Renjana dengan kecemasan yang amat besar. Sebagai seorang pria dan perwira militer di tahun 1843, adalah hal yang sangat tabu dan memalukan untuk menyentuh pakaian bagian belakang seorang wanita terpuji. Namun, melihat Renjana yang tampak hampir pingsan karena kehabisan napas, Wira membuang jauh-jauh seluruh hukum kaku abad kuno itu.