
Malam pasca-pesta dansa itu meninggalkan keheningan yang damai di paviliun belakang. Udara kemarau Batavia terasa sedikit lebih sejuk saat angin malam berhembus pelan. Renjana, yang sudah mengganti gaun pestanya dengan gaun tidur katun yang longgar dan nyaman, duduk di undakan teras paviliun sambil menengadah.
Langit Batavia tahun 1843 begitu menakjubkan. Tanpa adanya polusi cahaya dari gedung-gedung bertingkat atau lampu kota modern masa depan, angkasa malam itu bersih sempurna. Ribuan bintang bertaburan bagai serbuk berlian di atas hamparan permadani hitam yang pekat.
Derap langkah bot yang pelan terdengar mendekat. Wira berjalan menghampiri dengan kemeja putihnya yang longgar tanpa jas seragam, membawa secangkir teh melati hangat yang kemudian ia serahkan kepada Renjana. Pria itu ikut duduk di undakan batu, satu anak tangga di bawah Renjana.
"Apa yang sedang Anda cari di atas sana, Renjana?" tanya Wira, suaranya yang bariton terdengar sangat lembut, berbaur dengan suara jangkrik malam.
"Hanya melihat bintang," jawab Renjana, menerima cangkir itu dan menghirup aromanya yang menenangkan. "Langit di zamanku tidak pernah sebersih ini. Bintang-bintang di masa depan seperti bersembunyi karena kalah terang oleh lampu kota."
Wira mendongak, sepasang mata jernihnya menatap hamparan rasi bintang di atas mereka. "Di militer, bintang-bintang itu adalah penunjuk arah kami. Jika kami tersesat di tengah laut atau hutan pedalaman Sumatra, kami membaca rasi Crux—Bintang Pari—untuk menemukan arah selatan. Mereka adalah pelita yang dititipkan Tuhan untuk navigasi manusia."
Renjana tersenyum tipis, lalu menoleh menatap profil samping wajah tegas Wira yang diterangi cahaya bulan. "Wira, mau tahu sebuah rahasia dari masa depan?"
Wira menoleh, alis tebalnya sedikit terangkat penuh rasa ingin tahu. "Rahasia apa?"
"Bintang-bintang yang kamu lihat di atas sana... mereka sebenarnya bukan sekadar pelita kecil," Renjana menunjuk ke arah gugusan bintang yang paling terang. "Di zamanku, sains sudah membuktikan bahwa setiap titik cahaya itu adalah matahari. Sama seperti matahari yang membakar kulit kita di siang hari. Mereka adalah pusat dari tata surya lain yang letaknya jutaan tahun cahaya dari bumi."
Wira tertegun. Ia menatap titik cahaya yang ditunjuk Renjana, lalu kembali menatap gadis itu dengan raut kebingungan yang campur aduk. "Matahari? Bagaimana mungkin benda sebesar dan sepanas matahari bisa tampak sekecil jarum di atas sana?"