
Setelah satu jam yang menyenangkan di lapangan latihan—di mana Wira dengan sabar menuntun kuda dan memegangi pinggang Renjana penuh kehati-hatian—mereka akhirnya berjalan kembali menuju paviliun belakang. Renjana turun dari kuda dengan wajah berseri-seri, rambut kuncir kudanya sedikit berantakan tertiup angin, sementara Wira menuntun tali kendali di sampingnya sambil sesekali melemparkan senyum tipis khasnya.
Namun, suasana manis itu mendadak menguap ketika mereka sampai di halaman utama kediaman Jenderal.
Di dekat beranda, sebuah kereta kuda mewah berlambang keluarga bangsawan Eropa sedang terparkir. Berdiri di samping kereta itu adalah seorang gadis muda keturunan Belanda—seorang noni cantik berambut pirang keemasan yang ditata dalam keriting spiral sempurna khas tren abad ke-19. Ia mengenakan gaun sutra berwarna biru muda dengan renda-renda mahal. Begitu melihat Wira datang, wajah cantik noni Belanda itu langsung berbinar cerah.
"Kapten Wira!" panggil noni itu dengan suara mendayu yang manja dalam bahasa Melayu patah-patah yang fasih. Ia melangkah anggun menghampiri Wira, mengabaikan kehadiran Renjana sepenuhnya. "Ah, syukurlah Anda ada di sini. Ayah saya meminta saya mengantarkan surat undangan ini langsung untuk Anda."
Renjana langsung menghentikan langkahnya. Ia berdiri dua langkah di belakang Wira, melipat kedua tangannya di dada dengan bibir mengerucut sebal. Matanya menyipit tajam, menatap bagaimana noni Belanda itu berbicara dengan jarak yang sangat dekat, bahkan sesekali jemari lentiknya menyentuh lengan seragam kemeja putih Wira dengan genit.
Oh, jadi ini tipe cewek idaman zaman dulu? Kalem, anggun, dan bajunya kayak kue cucur begitu? batin Renjana ketus. Rasa cubitan tak nyaman yang amat sangat mendadak meremas dadanya. Jiwa aktris papan atasnya bergejolak; di masa depan, tidak ada yang berani mengabaikannya seperti ini.