Captain Wira:1843

Indah Leony Suwarno
Chapter #18

18: Air Dari Dasar Sumur Artesis Terdalam di Weltevreden


Siang itu, hawa kemarau Batavia terasa begitu memanggang. Udara di dalam paviliun terasa sangat pengap dan lengket, membuat Renjana yang baru saja selesai merapikan kamarnya berjalan keluar ke teras dengan lunglai. Ia mengempaskan tubuhnya di kursi kayu, mengibas-ngibaskan selembar kertas ke depan wajahnya yang memerah karena gerah.


"Aduh, gila... panas banget. Bisa mati berdiri gue lama-lama di sini," keluh Renjana dengan bahasa modernnya, menyandarkan kepalanya yang pening ke sandaran kursi. "Andai aja ada es teh manis pakai es batu yang banyak... dikocok di gelas sampai bunyi klenting-klenting... pasti surga banget."


Wira, yang kebetulan sedang melintas di koridor teras membawa beberapa berkas militer, menghentikan langkahnya. Ia menatap Renjana yang tampak sangat menderita oleh cuaca siang itu. Alis tebalnya bertaut rapat mendengar gumaman gadis itu.


"Es... batu?" tanya Wira bingung, mengulang kosakata asing tersebut dengan lidah Melayu tingginya yang kaku. Pria itu berjalan mendekat dan berdiri di tepi teras. "Apa yang Anda maksud dengan batu yang es, Renjana? Apakah itu sejenis batuan mineral dingin yang digali dari dalam tambang di masa depan?"


Renjana mendongak, lalu menghela napas panjang sambil menahan senyum geli melihat wajah super serius Kapten Wira itu.


"Bukan, Kapten Kaku," kekeh Renjana lemah. "Es batu itu air yang dibekukan lewat mesin teknologi di zamanku. Bentuknya kotak-kotak, bening seperti kristal, dan kalau dimasukkan ke dalam minuman rasanya akan dingin sekali seperti air gunung di musim dingin. Menyegarkan sekali kalau diminum saat cuaca sepanas ini."


Wira terdiam, menatap Renjana dengan pandangan yang sulit diartikan. Di Batavia tahun 1843, konsep mendinginkan minuman dengan es batu adalah hal yang sangat mustahil. (Fakta sejarah mencatat, kapal pembawa es batu pertama dari Amerika baru akan merapat di pelabuhan Batavia tiga tahun kemudian, yaitu pada tahun 1846). Bagi Wira saat ini, membekukan air di tengah dataran rendah Batavia yang panas adalah sebuah sihir masa depan.

Lihat selengkapnya