Captain Wira:1843

Indah Leony Suwarno
Chapter #19

19: Lagu Dari Masa Depan

Malam itu, paviliun belakang diselimuti oleh kesunyian yang menenangkan. Angin kemarau bertiup pelan, menggoyangkan dedaunan pohon kenari raksasa di halaman. Di bawah pendar temaram lampu minyak di teras, Wira sedang duduk serius membersihkan pedang sabre seremonial miliknya dengan selembar kain flanel bersih. Garis rahangnya tampak fokus, sesekali memantulkan kilatan logam pedang di bawah cahaya lampu.


Renjana duduk di undakan batu tidak jauh dari meja Wira, memeluk lututnya sambil menatap langit bertabur bintang. Keheningan itu terasa damai, namun Renjana mendadak merindukan sesuatu yang biasa menemaninya di masa depan saat sedang melamun: musik. Di abad ke-19 ini, musik hanya bisa dinikmati jika ada orkestra besar di aula pesta seperti di Schouwburg, atau permainan piano kaku di ruang utama.


"Wira," panggil Renjana memecah kesunyian, menoleh menatap sang Kapten. "Kamu mau tahu tidak? Di zamanku, musik itu tidak harus dimainkan oleh kelompok orkestra besar dengan pakaian formal. Musik bisa didengarkan kapan saja, lewat kotak kaca hitam yang mati ini jikalau ia menyala."


Wira menghentikan sejenak gerakan tangannya yang sedang mengusap bilah pedang. Ia mendongak, sepasang mata jernihnya menatap Renjana dengan rasa penasaran yang melunak. "Lalu, bagaimana cara manusia di zaman Anda bersenandung jika tiada alat musik yang berdentang di sekitar mereka?"


Renjana tersenyum tipis. "Kami menyanyikannya langsung. Nada-nadanya jauh lebih santai, tidak sekaku musik waltz atau simfoni klasik." Renjana membetulkan posisi duduknya, menatap lurus ke dalam manik mata Wira. "Mau aku nyanyikan sebuah lagu dari masaku?"


Wira meletakkan pedang dan kain flanelnya ke atas meja. Ia menggeser duduknya menjadi lebih condong ke arah Renjana, melipat kedua tangannya di atas meja perak. "...saya akan mendengarkannya dengan saksama, Nona."


Renjana menarik napas dalam-dalam, mengumpulkan keberaniannya. Ia mulai menyanyikan sebuah lagu romantis modern dengan suara yang lirih, lembut, namun sarat akan perasaan. Melodi pop modern yang ia lantunkan mengalir lambat membelah keheningan malam Batavia.

Lihat selengkapnya