Captain Wira:1843

Indah Leony Suwarno
Chapter #20

20: Tersesat di Hutan

Ketegangan mendadak melanda kediaman Jenderal Dwipama siang itu. Seorang prajurit KNIL yang baru kembali dari patroli perbatasan roboh di halaman samping dengan kondisi mengenaskan; perutnya terkena sabetan pedang sabre yang dalam. Darah terus mengalir, sementara pasokan obat-obatan di barak medis Weltevreden menipis akibat terhambatnya jalur logistik kemarau. Satu-satunya harapan adalah dedaunan herbal khusus penghambat pendarahan yang hanya tumbuh liar di dalam hutan lebat di pinggiran Batavia.


Melihat tabib militer yang mulai putus asa, Renjana tidak bisa tinggal diam. "Saya tahu bentuk daun itu dari buku botani! Biar saya ikut mencari agar lebih cepat," tegas Renjana. Bersama tiga pelayan pribumi tua yang paham medan hutan, mereka bergegas berangkat membawa keranjang anyaman.


Namun, nasib buruk menimpa mereka di dalam hutan. Saat sedang fokus menyusuri semak-semak lebat, fokus Renjana teralih oleh sekelompok tanaman obat di balik pohon besar. Ia melangkah semakin jauh. Ketika ia mendongak, matahari sore sudah mulai turun, memayungi hutan dengan kabut tipis dan bayangan gelap yang membingungkan.


"Bibi! Kopral!" panggil Renjana, suaranya bergetar panik. Namun, hanya gema suaranya sendiri yang membalas. Ia telah terpisah dari rombongan dan tersesat di tengah hutan belantara Batavia tahun 1843.


Sementara itu, jarum jam saku perak menunjukkan pukul lima sore ketika Wira melangkah masuk ke gerbang kediaman Jenderal. Ia baru saja menyelesaikan rapat taktis yang melelahkan bersama faksi militer di Waterlooplein. Namun, langkahnya seketika terhenti saat melihat paviliun belakang dalam keadaan ribut dan kacau.


Seorang pelayan tua berlari menghampirinya dengan wajah pucat dan mata sembab. "K-Kapten Wira... Nona Renjana... Nona Renjana hilang di dalam hutan barat saat mencari daun obat!"

Lihat selengkapnya